SEQUEL Cinta Datang Terlambat bag. A (AlShill)

Hehehe ini pengganti touchénya. masih dalam proses pengetikan kok tenang sajaaaaa. karena yang cinta datang terlambatnya itu nggantung endingnya yaudah deh dibuat sequelnya. dibagi jadi dua, karena kepanjangan. ini bahasanya emang ancur jadi maklum aja deh ya, yaudah deh. Typo dimana – mana kawaannn~

***

Keduanya diam, gelak tawa tujuh tahun yang lalu tidak lagi ada. Shilla kembali, pikir Alvin. Alvin menghela napas untuk kesekian kalinya, gadis berkucir satu dan sepasang sepatu kets putih yang buluk, bermetamorfosis menjadi wanita yang selama ini Alvin tidak sangka. Rambut panjang kesayangannya dipotong menjadi sebahu, mata Shilla yang sebelumnya Alvin kira normal, berhias bingkai kacamata persegi panjang. Shilla tidak banyak berubah, begitu batin Alvin. Wajah Shilla tetap sama, masih cantik walaupun tanpa make up.

“Apa kabar?” tanya Alvin akhirnya setelah tiga puluh menit mereka diam.

“Baik.” Jawab Shilla singkat. Dalam hatinya, Shilla ingin menanyakan kabar Alvin bagaimana. Tapi melihat tubuh Alvin yang semakin tegap dan segar membuat Shilla urung menanyakannya.

“Lo kesini liburan, atau?” tanya Alvin lagi. Berusaha mencari topik lain agar komunikasi tidak terputus.

“Kerja, di RS Pondok Indah, dokter bedah.” Jawab Shilla. Diam – diam, Alvin bangga dengan Shilla. Perempuan itu berhasil lulus dari kuliahnya, dan diterima sebagai dokter bedah.

“Oooohhh..” Alvin mengangguk. Setelah itu, suasana menjadi hening lagi. Alvin mengaduk pelan segelas cappucino-nya kemudian meneguknya. Alvin tertohok begitu mengingat perasaan Shilla kepada dirinya. Manis tapi diakhirnya pahit. Sekarang – atau dulu – Alvin merasa laki – laki paling bodoh sedunia, menyia – nyiakan Shilla.

“Sivia?” tanya Shilla pelan. Perasaannya tidak karuan, sakit. Perasaan itu masih sama, tersimpan rapi di hatinya. Tidak ada yang bisa mengubahnya walaupun sebaik apapun orang itu. Perasaannya masih utuh.

“Sivia? Dia baik… sangat baik…” Shilla mengangguk pelan, ditatapnya gelas berisi air mineral itu.

“Hmm… perasaan lo ke gue…..” tanya Alvin ragu, Shilla menggigit bibirnya, berusaha mengusir rasa sakit yang menghuni hatinya bertahun – tahun.

“Tolong jangan ungkit lagi perasaan gue ke lo. Cukup dulu, nggak usah di bahas lagi sekarang.” Shilla menggeleng, mencengkram erat tangan kirinya.

“Gue minta maaf….”

“Lo nggak salah, gue yang salah. Salah banget. Gue bego, bisa suka sama lo yang jelas – jelas nggak bisa gue dapetin. Lo terlalu jauh, lo nggak bisa gue pegang.” Kata Shilla pelan, cukup untuk didengar Alvin.

“Shilla please… jangan bikin gue tambah ngerasa bersalah gini,” ujar Alvin gusar.

“Udah gue bilang, lo nggak salah. Gue yang salah punya perasaan ini, rasa yang paling konyol yang pernah gue punya. Dan gue….” kata Shilla terputus, “Lo udah jauh di depan, sedangkan gue masih di belakang. Sampai akhirnya, cuma Sivia yang bisa nyusul elo. Dan gue kalah, harusnya gue tahu itu dari awal.”

“Shilla tolong… jangan buat gue makin tersudut kayak gini.” Mohon Alvin. Shilla tersenyum kecil.

“Vin… jaga Sivia, jangan bikin dia sakit hati. Cukup Vin, cukup gue aja yang ngerasain ini. Jangan Sivia, dia terlalu baik buat ngerasain ini.” Airmata yang berusaha Shilla tahan, akhirnya leleh juga. Skak mat. Alvin menegang begitu melihat Shilla terisak, ingin rasanya ia memeluk Shilla sekarang juga.

“Gue pamit,” kata Shilla singkat, berdiri dan menarik kopernya. Menjauh dari Alvin. Alvin segera tersadar dari lamunannya, setelah meninggalkan sejumlah uang di meja, Alvin mengejar Shilla. Tidak ingin kehilangan Shilla untuk kedua kalinya. Tidak ingin masa lalunya terulang kembali.

   ***

Alvin menghempaskan tubuhnya pada kasur berukuran king size berseprai putih. Menghela napas kemudian memejamkan matanya sejenak. Lagi – lagi, untuk kedua kalinya dia kehilangan Shilla.

“YaTuhaaannnnn gue harus ngapaiiinnn” seru Alvin frustasi. Dipandanginya figura fotonya bersama Sivia yang berlatar pantai Seminyak di Bali. Diambil beberapa minggu yang lalu saat merayakan hari jadi Sivia.

“Gue masih ada Sivia, tapi gue nggak bisa memungkiri kalo gue sayang sama Shilla.” Lirih Alvin. di dompetnya, terdapat foto Shilla yang diambilnya secara diam – diam saat di Sekolah.

“Sivia terlalu baik buat macem orang brengsek kayak gue. Gue sayang Shilla, di satu sisi gue masih punya Sivia. Aaarrgghhhhhh” Alvin menggeram.

***

Shilla menatap jalanan dari jendela taksi. Jalan itu masih sama, masih persis tujuh tahun yang lalu. Warung bubur yang biasa jadi tongkrongannya dengan kedua sahabat kentalnya itu masih sama, masih ramai. Ify, Agni. Apa kabar mereka? Nomor Ify masih sama, tapi nomor Agni tidak bisa dihubungi. Shilla menghela napas pelan, berusaha menghilangkan rasa sesak yang mengumpul di dadanya.

“Alvin… kenapa lo jadi orang pertama yang gue temuin… kenapa…” lirih Shilla. Shilla paham, hubungan Alvin dengan Sivia semakin mantap. Cincin putih melingkar di jari manis kanan Alvin. Bisa dipastikan, Alvin mutlak milik Sivia.

‘YaTuhan, hapuskan rasa ini dari hamba…’ batin Shilla pilu. Tujuh tahun menetap di negeri Singa, tidak lantas membuat Shilla melupakan masa putih abu – abunya yang sama sekali tidak manis. Cinta pertamanya, Alvin, juga menjadi orang yang menyakiti hatinya. Mana kisah remaja yang sering digambarkan manis? Masa yang penuh cinta, haru, dan sedih. Tapi kenapa Shilla cuma merasakan pahitnya saja? Shilla sedikit merutuki masa remajanya yang sama sekali tidak manis, menyedihkan.

“Shilla…. Shilla… menyedihkan sekali hidup anda..” decak Shilla pelan. Matanya sudah sembab, terlalu banyak memproduksi airmata.

“Pak, depan belok kanan blok A9 ya,” kata Shilla dengan suara serak ketika menyadari taksi sudah melaju mendekati rumahnya. Rumah yang dulu. Shilla menatap sendu lapangan yang dulu di bangun pasar malam, dimana untuk pertama kalinya Shilla pergi bertiga dengan Alvin dan Sivia, walaupun dipaksa. Taksi berhenti tepat di depan rumah bercat putih minimalis, blok A9. Rumah Shilla dulu.

“Kembaliannya ambil aja pak, makasih ya.” Ujar Shilla. Shilla memandang rumahnya, masih sama. Degh… tiba – tiba rasa sakit itu kembali menyergapnya. Taman itu… taman rumahnya… tempat dimana Alvin menegaskan hubungannya dengan Sivia…

“Harusnya gue nggak nginep disini…” lirih Shilla, kemudian menyeret koper pinknya, masuk ke dalam rumah megah tersebut dengan perasaan kacau.

***

Siangnya, setelah sarapan dan mandi Shilla berniat membereskan buku – buku SMAnya yang masih tertata rapi di meja belajarnya. Pertama Shilla memasukkan buku tulisnya. Sampai pada buku tulis Fisika, Shilla tertegun. Dibukanya buku itu, dan di halaman pertama terdapat tanda tangan Alvin. Dan halaman kedua, coretan besar berspidol. Kenangan itu, terpeta dengan jelas dalam memori Shilla. Kenangan yang menurutnya cukup indah untuk diingat, jauh, jauh sebelum Sivia memasuki dunia Alvin.

“Lo yang ngajarin cinta, tapi lo juga yang ngajarin gue sakit Vin…” lirih Shilla. Tidak mau lama – lama, Shilla segera memasukkan semua buku SMAnya kedalam kardus. Saat mengambil buku cetaknya, selembar foto jatuh dari dalam. Foto Alvin.

“Bodoh, nggak seharusnya gue nyimpen foto lo..” Shilla menggeleng lemah, berusaha menahan laju airmatanya. Cukup, cukup semalam dia menangis hanya karena kalah dengan bayang – bayang Alvin.

Setelah selesai mengepak semua bukunya, Shilla membiarkan saja kardus cokelat itu tetap di kamarnya. Shilla menyalakan radio yang dibawanya dari Singapura. Disetelnya radio itu, kemudian Shilla membaringkan badannya di kasur. Mendengarkan ocehan yang Shilla harap bisa mengembalikan suasana hatinya. Tiba – tiba intro sebuah lagu terdengar. Sammy Simorangkir, kesedihanku.

 

Engkau masih yang terindah

Indah di dalam hatiku….

 

Shilla menggigit bibirnya kuat – kuat, lirik lagu itu…. Persetan! Shilla menggapai – gapai radionya, mengganti gelombang radio. Setelah di temukan, Shilla meletakkan kembali radio tersebut di meja putih samping kasurnya.

 

Kuharus pergi meninggalkan kamu

Yang telah hancurkan aku

Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya

Cintaku lebih besar dari cintanya

Mestinya kau sadar itu

Bukan dia, bukan dia, tapi aku….

 

Cukup! Shilla buru – buru mematikan radionya. Shilla sangat mengharapkan, dengan mendengarkan radio, perasaannya yang kacau sejak semalam kembali membaik. Tapi kenyataannya, perasaannya semakin dibawah.

“Kenapa harus kayak gini” Isak Shilla. Tidak mampu menahan airmatanya lagi. Dan lagi, untuk kedua kalinya pada hari keduanya di Jakarta, Shilla menangis. Menangisi orang yang sama, orang yang masih memenuhi setiap sudut ruang hatinya. Alvin.

***

“Bagaimana Alvin? kamu setuju jika kamu menikah tanggal 20 Juli? Sivia?” tanya Antonius, hari itu orangtua Alvin dan Sivia berkumpul di rumah Alvin. Membicarakan tanggal pernikahan Alvin dan Sivia.

“Ehm…. Alvin terserah Sivia aja.” Ujar Alvin pelan. Pikirannya kacau, gadis yang ditunggunya sejak tujuh tahun yang lalu, hadir kembali. membuat Alvin semakin bimbang antara memilih Sivia atau Shilla.

“Kalau tanggal 20 baik buat tanggal pernikahan, Sivia setuju aja. Iya kan Alvin?” tanya Sivia halus dan tersenyum kearah Alvin yang tengah melamun. Pikirannya melayang. Tidak ada reaksi dari Alvin, pemuda tersebut tetap diam.

“Alvin” pannggil Sivia sambil mengguncangkan pelan bahu kanan Alvin.

“Hah? Apa? Oh iya, Alvin setuju.” Kata Alvin, wajahnya pucat.

“Vin? Kamu kenapa?” tanya Sivia. Alvin menggeleng pelan. Walaupun begitu, Sivia tetap tahu Alvin menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Bertahun – tahun bersama Alvin, membuat Sivia paham akan sifat Alvin. butuh waktu dua tahun bersama Alvin baru Sivia paham akan sifat Alvin yang moody, dan keras kepala. Berbeda dengan Shilla, hanya beberapa bulan bertemu, gadis itu sudah bisa menjabarkan bagaimana Alvin.

“Yasudah, kami mau kebelakang dulu. Silahkan kalian merancang bagaimana pernikahan impian kalian.” Kata Rendra, papa Sivia. Orang tua Alvin dan Sivia berdiri, meninggalkan kedua anak mereka di ruang tamu berdua.

“Jujur sama aku Vin, kamu kenapa? Nggak biasanya kamu kayak gini. Kamu sakit?” tanya Sivia khawatir setelah kedua orantuanya dan Alvin menghilang di balik tembok pembatas antara ruang makan dan ruang tamu.

“Nggak, aku nggak kenapa – kenapa.” Alvin menggeleng pelan. Sivia menghela napas.

“Hhh.. aku udah kenal kamu berapa lama sih Vin? Kamu kayak gini, berarti kamu kenapa – kenapa.” Bantah Sivia.

“Kalo kamu udah tahu aku kenapa, kamu kenapa tanya?” tanya Alvin dingin. Sivia menegang. Sifat Alvin yang satu itu muncul lagi setelah beberapa tahun terakhir Alvin sukses memendamnya.

“Ya karena aku khawatir sama kamu!” kata Sivia keras.

“Kamu emang tunangan aku, tapi bukan berarti kamu berhak mencampuri urusan pribadi aku! Udah berapa kali aku bilang, jangan ngurusin urusan yang bukan urusan kamu sendiri!” bentak Alvin, kemudian mengambil kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja, berlalu meninggalkan Sivia sendiri di ruang tamu.

“ALVIN!” panggil Sivia kencang. Alvin tidak menengok, new accord putih Alvin melaju meninggalkan Sivia yang terus memanggil – manggil namanya.

Alvin mencengkram erat strir mobilnya. Satu hal yang Alvin tidak senang terhadap Sivia, perempuan itu teralu posesif. Sivia memang tunangannya, bukan berarti Sivia berhak mencampuri urusan pribadi Alvin. begitu pikir Alvin.

“Shilla…” tiba – tiba nama Shilla terlintas di kepalanya. Alvin melajukan mobilnya menuju rumah Shilla dulu, berharap Shilla masih tinggal disana. Dan sesuatu membuat Alvin menitikkan airmatanya.

***

Alvin tiba dirumah Shilla ketika perempuan itu tengah menyirami tanaman di rumahnya. Shilla yang mengenali mobil Alvin, buru – buru mematikan kran dan hendak masuk. Tapi kalah cepat dengan Alvin. Pemuda itu berhasil menangkap tangannya.

“Shill, please…” pinta Alvin. Shilla tetap membuang muka, tidak memandang Alvin. Rasa sakit itu masih ada, bagaimanapun usaha Shilla untuk memendamnya.

“Nggak ada yang perlu diomongin lagi Vin, semuanya udah terlambat.” Shilla menggeleng.

“Nggak! Gue mau minta maaf..”

“Udah gue bilang, nggak ada yang perlu dimaafin kan? Lo budek?” ujar Shilla dingin. Alvin menghela napas. Ayolah, mana Shilla yang dulu?

“Shilla yang gue kenal nggak kayak gini.” Balas Alvin. Shilla menatap Alvin, membalas tatapan pemuda itu.

“Terus Shilla yang lo kenal gimana? Hm? Emang Shilla yang dulu kayak gimana? Lo nggak tahu. Yang lo tahu  cuma Shilla yang freak, Shilla yang judes, Shilla yang nggak baik, Shilla yang menyedihkan. Gitu? Hina aja sepuas lo! Hina! Biar lo puas!” jerit Shilla histeris.

“Nggak! Shilla yang gue kenal nggak kayak gini, Shilla yang gue kenal Shilla yang galak tapi baik, Shilla yang bebel di Fisika, Shilla yang labil, Shilla yang heboh, Shilla yang..”

“ALVIN STOP!! CUKUP!” Shilla menarik paksa tangan kirinya yang digenggam Alvin, kemudian menutup kedua telinganya, memejamkan matanya rapat – rapat.

“Gue tahu semua tentang lo, lebih banyak dari gue tahu tentang Sivia.” Kata Alvin pelan. Cukup didengar Shilla. Shilla menurunkan kedua tangannya, membuka matanya kembali.

“Tapi kenapa harus gue yang ngerasain ini..” lirih Shilla.

“Karena lo nggak berani untuk mengungkapkan sesuatu, dan lo kalah di finish.” Ujar Alvin tajam. Shilla menggigit bibir bawahnya.

“Gue cewek! Kalo gue ngungkapin semua yang gue rasain ke elo, dan semua orang tahu. Harga diri gue hilang Vin! Dan lo harus tahu itu.” Balas Shilla.

“Kenapa? Karena gue sayang sama elo.” Tutur Alvin lembut. Shilla menegang di tempatnya.

“Cowok bodoh! Brengsek!” Shilla menampar Alvin keras. Sehingga membuat telapak tangan Shilla panas.

“Lo punya Sivia! Dia tunangan elo! Dan sekarang lo bilang sayang sama gue? Hahaha” kata Shilla sinis. Alvin menghela napas pelan. Seharusnya dia sudah bisa menebak bagaimana reaksi Shilla.

“Tau darimana lo Sivia tunangan gue?” tanya Alvin dingin. Shilla menarik jari Alvin yang terpasang cincin putih tersebut.

“Cincin ini udah buktiin semuanya Vin. Gue bukan boneka yang bisa sesuka hati lo mainin, gue juga punya hati!” bentak Shilla.

“Gue nggak pernah niat buat mainin elo, rasa ini ada dengan sendirinya. Cinta itu nggak ada wujudnya Shill, dia bisa datang kapan saja semaunya, cinta datang tanpa aba – aba. Cinta datang disaat waktu yang tepat, dan tidak tepat. Tapi sayang, cinta datang disaat yang nggak tepat buat gue.” Ujar Alvin dengan penuh penekanan. Shilla menangis mendengar kata – kata Alvin. Hatinya bahagia, perasaannya tersambut. Tapi benar kata Alvin, cinta datang kepadanya disaat tidak tepat, disaat Alvin mutlak milik orang lain.

“Buat gue ini nggak adil, gue nggak pernah ngerasain apa itu cinta, sampai elo ngajarin gue cinta, tapi lo..” Shilla menekankan ujung telunjuk kanannya pada dada disebelah kiri Alvin.

“Tapi lo juga yang ngajarin apa itu rasa sakit yang sampai sekarang masih menghuni hati gue. Makasih atas semuanya. Dan gue minta, tolong pergi dari sini. Pergi dari kehidupan gue, udah cukup lo nyakitin gue, jangan lagi Vin.” Pinta Shilla dengan penekanan yang jelas didengar oleh Alvin.

“Tapi satu hal yang harus lo tahu, gue sayang sama elo. Sampai kapanpun. Sayang gue ke elo, jauh lebih besar daripada rasa sayang gue ke Sivia. Dan menyedihkannya, gue baru sadar ketika orang itu udah lepas dari genggaman gue. Dan nggak akan bisa gue pegang lagi untuk kedua kalinya.” Setelah berkata seperti itu, Alvin meninggalkan Shilla yang jatuh terduduk di tamannya. Menangis, lagi – lagi menangisi orang yang sama untuk ketiga kalinya.

“Gue emang sayang sama lo Vin, tapi lo udah jadi milik orang lain. Gue bisa apa?” lirih Shilla sambil memandangi mobil Alvin yang perlahan menjauh dari rumahnya.

***

Sincerely

@Kinanthi99

About Touché

Ehm… ini bukan touché part 11. Mungkin ini novel nggak gue post lagi, takut kena tuduhan mengklaim hak milik orang lain, soalnya kasus(?) ini udah ada yang kena. Nyari aman doang sih, nggak gue lanjutin deh daripada kena tuduhan serius itu hehehe. Padahal part 11 udah terkuak loh pak Yunus di sembunyiin dimana, kodenya juga bakal terpecah, masuk konfliknya, ada Indra – Rio –  yang di sekap, siapa track finder-nya, pokoknya udah ke inti masalah! Berhubung gue nyetalk salah satu fanbase di grup fb dan gue nemu berita tentang ini, yaudah deh gue nggak ngelanjutin re-postnya. Maaf yaaaaaa padahal udah mau end beberapa part lagi tuh. enem kayaknya. yaudah deh</3. ok, cuma  mau ngasih tau info ini doang kok. Dadaaahhh

Cinta Datang Terlambat (AlShill)

Halo! udah berapa lama gue nggak nge post disini? muehehehe *polos* buat touché nya di pending dulu yaaaa. sebagai gantinya ini deh. cerpen yang keberapa gue lupa. ini masih amatir. maaf aja kalau jelek binti ancur(?) dan diksinya masih nggak bener okesip. ini ke inspirasi sama lagunya maudy ayunda yang cinta datang terlambat. ok langsung aja. CIAOOOOOOO

***

“ALVIIIINNNNN!!!!” teriak Shilla murka. Pasalnya, jawaban Fisika yang dia kerjain sendiri sampai kepala mumet – mumet, di coret habis – habisan sama Alvin. Mana pakai spidol merah lagi! Ini sih udah kelewat batas. Nggak ngehargain kerjaan orang aja.

“Apaan? Coretan gue mahal tau! Orang – orang yang sana aja pada minta coretan gue, elo yang gratis aja heboh.” Sahut Alvin santai yang sukses membuat hidung Shilla kembang kempis. Bener – bener nih ya!

“Elo nggak ngehargain usaha orang banget sih! Gue ngerjain ini begadang nih. Elo main coret aja!” dumel Shilla.

“Dasar bebel! Cara lo salah binti ngawur nyolot banget. Malu mbak!” sinis Alvin. Shilla manyun se – manyun – manyunnya. Udah salah, marah – marah lagi. Iisshh dasar!

“Kalau lo mau benerin ya udah benerin aja. Gengsi kok di peliara.” Cibir Shilla sambil mengeluarkan pensil dan penghapus dari dalam kotak pensilnya.

“Gue? Ngebenerin jawaban lo? HAHAHA you wish.” Kata Alvin cuek, mata sipitnya masih tetap menelusuri komik yang baru kemarin dibeli.

“Yaudah. Santai aja kali jawabnya, nggak usah pake urat juga bisa.” Sinis Shilla, lalu mulai mengerjakan kembali lima soal Fisika yang dijamin mampu membuat otak cepat kisut.

‘Ini nih, namanya persetan. Mentang – mentang gue bego di Fisika, bu Lira ngasih tugas mulu.’ Batin Shilla keki. Sedikit merutuki guru Fisikanya yang satu itu. Bu Lira, beliau sebenarnya baik, baik banget malah. Shilla nya aja keburu benci sama Fisika jadi nganggap kalau bu Lira itu kiriman dari neraka buat manasin hari – harinya. Shilla itu kepaksa masuk jurusan IPA di kelas dua ini, mengingat kalau orang tuanya obsesi banget Shilla harus kuliah di kedokteran nanti.

“Bisa nggak lo?” tanya Alvin saat melihat Shilla cemberut gara – gara nggak ada satu soalpun yang bisa dia jawab selama lima belas menit ini.

“Bisa kok! Bisa.” Jawab Shilla mantap. Dia malu dong kalau ngakuin dia minus banget di Fisika? Apalagi di depan cowok macam Alvin ini. Mau di taruh dimana mukanya?!

Alvin mengangkat bahunya cuek. Tanpa sepengetahuan Shilla, Alvin tersenyum penuh arti pas liat gelagat teman sebangkunya ini.

“Yang ngomong gengsi tadi siapa ya? Padahal dirinya juga gengsi.” Sindir Alvin. Refleks, Shilla men – stop pekerjaannya. Dan menatap Alvin intens.

“Maksud lo apa ngomong kayak gitu? Hah?!” seru Shilla. Mukanya merah padam. Siap meledakkan bom atom yang ada di dalam tubuhnya

“Wets. Kalem nona! Emangnya gue ngomong sama lo ya? Terus tadi gue nyebut nama Shilla gitu? Enggak deh kayaknya.” Kata Alvin dengan nada meledek.

“Ish! Elo tuh ya! Bener – bener bikin gue naik darah tahu nggak?! Udah nyoret – nyoret buku gue, nggak mau minta maaf lagi. Sekarang, malah nyindir gue kayak gini. Lo nyebelin banget! Sumpah!” Shilla mencak – mencak. Harus punya kesabaran ekstra kalau ngadepin tipe cowok kayak Alvin ini.

“Loh, emang jawaban elo salah kok. Ya gue punya hak dong untuk nyoret jawaban lo yang ngawur itu.” Bela Alvin. Shilla mengepalkan kedua tangannya, berusaha meredam emosi yang lagi klimaks di dirinya.

“Tuan Alvin Jonathan yang terhormat, gue tahu lo jago di Fisika. Tapi nggak ngerendahin juga!” ujar Shilla penuh penekanan.

“Gue nggak ngerendahin elo kok.” Kata Alvin santai. Shilla melongo, ini dia nggak punya rasa kasihan atau apaan sih?!

“Tauk ah! Bisa – bisa darah tinggi beneran gue disini.” Cibir Shilla lalu melenggang pergi keluar kelas. Alvin tertawa kecil begitu melihat ekspresi marah cewek itu. Ekspresi yang mampu membuat moodnya jeblok, jadi naik lagi. Mangkanya, dia suka banget ngejailin Shilla.

 

Yes. Alvin – Shilla, atau Shilla – Alvin. Mau di bolak – balik tetap aja sama. Biang rusuhnya SMA Budyawacana. Shilla yang cuek, Alvin yang jail. Selalu aja, ada yang membuat Shilla marah – marah ke Alvin dan di tanggapi Alvin dengan cuek bebek. Dan ujung – ujungnya Shilla yang masa bodo, dan memilih pergi. Sebenarnya, pertengkaran mereka bermula sejak kelas satu jam pelajaran olahraga. Shilla ingat betul, dia sama Alvin musuhan gara – garanya Alvin nggak sengaja nimpuk Shilla pake bola basket. Dan parahnya, Alvin nggak mau minta maaf. Cuma karena itu! Kenaikan kelas, Shilla udah komat – kamit agar Alvin nggak sekelas sama dia. Tapi ternyata enggak, dia sekelas. Yang bikin Shilla cemberut ternyata dia sebangku sama Alvin. WHAT THE HELL?!

***

“Bek, gue minta makan dong. Gue belum sarapan nih dari rumah.” Pinta Alvin saat dia ngeliat Shilla ngeluarin kotak bekalnya dari dalam tas.

“Beli aja sendiri. Elo kan kaya, ngapain juga minta – minta.” Sahut Shilla cuek. Alvin melotot, tapi walaupun dia melotot kayak gitu, matanya juga tetep segaris.

“Ayolah, bek. Gue nggak lagi ngajak elo berantem nih. Asli gue laper banget!” melas Alvin. Shilla menoleh kearah Alvin.

“Alah, abis lo makan bekal gue palingan juga ngajak perang lagi,” kata Shilla skeptis. Cewek ini berusaha nggak kemakan sama tampang melas Alvin. Dia nggak mau kejadian dulu keulang lagi.

“Ayolaaahh lo mau temen sebangku lo yang paling cakep ini mati kelaperan? Nggak kan? Bagi dooonggg” bujuk Alvin. Shilla ingin muntah pas denger kata ‘temen sebangku lo yang paling cakep’. Shilla nggak tega juga liat Alvin melas – melas ke dia kayak gitu.

“Yaudah. Tapi gue Cuma buat sandwich doang. Isinya telor dadar sama selada ples tomat. Suka nggak lo?” tanya Shilla sambil membuka kotak bekalnya.

“Bodo! Yang penting gue makan! Laper banget.” Alvin langsung ngambil sepotong sandwich yang Shilla bawa dan melahapnya. Shilla melongo. Cowok ini udah nggak makan berapa tahun sih?! Nggak di empanin di rumah apa gimana, pantes aja kerempeng gitu. Shilla mikir keras.

“Btw. Sandwich lo enak juga, besok – besok bawain gue deh.” Suruh Alvin tanpa dosa. Shilla melotot.

“Enak aja, emangnya gue babu lo apa? Bikinin elo sarapan tiap pagi. Cih” dengus Shilla. Dia jadi nggak niat lagi makan sandwich yang dia bikin.

“Yeee orang gue ngomongnya baik –  baik juga. Sinis amat jawabnya,” sahut Alvin lalu mengambil sisa sandwich yang ada di kotak bekal Shilla.

“Sandwich lo abis tuh, nggak papa?” tanya Alvin memastikan. Shilla mengangguk pelan.

“Nah, sehari aja baik sama gue kek. Kan enak” kata Alvin. Shilla menggeplak tangan Alvin dengan tutup kotak bekalnya. “Enak di elo, nggak enak di gue!”

“Btw. Makasih ya buat sandwichnya, enak!” puji Alvin kemudian meninggalkan Shilla sendiri di bangkunya.

‘Tuh cowok bisa juga bilang makasih ya? Gue kira enggak. Eh tapi ganteng juga sih. Coba aja kalo tuh cowok nggak tengil kayak gini, gue demen dah!’ batin Shilla. ‘Astaga! Gue mikir apaan sih? NO! Jangan sampai elo jatuh cinta sama Alvin Shillaaa. Inget, dia musuh lo! Sekali musuh tetap musuh!’

***

“Nama saya, Sivia Azizah. Biasa di panggil Sivia atau Via. Saya pindahan dari Bandung, senang bisa berkenalan dengan kalian semua.” Ujar Sivia saat memperkenalkan dirinya.

“Oke Sivia. Kamu bisa duduk di belakang bangu Ashilla. Ashilla, acungkan tangan kamu.” Perintah Bu Tara, guru Matematika. Shilla mengacungkan tangannya. Sivia mengangguk lalu berjalan menuju meja yang di maksud.

“Gue Ashilla Zahrantiara. Cukup panggil Shilla.” Kata Shilla setelah Sivia duduk di belakangnya.

“Halo Shilla!” sapa Sivia semangat. Shilla tersenyum. Dia rasa, temannya akan bertambah.

“Heh!” panggil Shilla pada Alvin.

“Hm…” sahut Alvin cuek. Shilla menghela napas keras.

“Ada temen baru, kenalin diri gitu kek!” cibir Shilla. Alvin memalingkah wajahnya pada Sivia yang menatapnya.

“Alvin.” kata Alvin singkat, kemudian melanjutkan mencatat materi yang di terangkan bu Tara di depan.

“Dia emang kayak gitu orangnya. Nyebelin!” bisik Shilla. Sivia tertawa kecil.

‘Alvin… Kayaknya gue jatuh cinta sama lo.’ Batin Sivia.

Bel istirahat berdering beberapa menit yang lalu, Shilla buru – buru mengepaki alat – alat tulisnya dan di masukkan ke dalam tas.

“Gue ke koperasi dulu, Vi ikut nggak?” tanya Shilla. Sivia menggeleng.

“Yaudah duluan ya Vi!” Shilla berlari kecil menuju koperasi. Sepeninggal Shilla, Sivia hanya diam dan menatap punggung yang berada di depanya, Alvin.

“Sampe kapan lo mandangin gue kayak gitu?” seru Alvin, membuat Sivia terlonjak di tempat duduknya.

“Eh… enggak kok enggak…” Sivia menggeleng.

“Ck. Ininih gue paling nggak suka kalau cewek kayak gini. Bikin kesel!” decak Alvin. Sivia menunduk.

“Nama gue…. Sivia.” Sivia mencoba memperkenalkan dirinya, basa – basi semata.

“Gue udah tau!” kata Alvin dingin.

“Oooh.. kantin ada dimana ya Vin?” tanya Sivia pelan. Yang dia butuhin sekarang Cuma air putih dingin buat nyegerin pikirannya.

“Kantin ada di lantai satu paling pojok depan lab komputer.” Jawab Alvin seadanya. Sivia manggut – manggut.

“Hmm… Mau nemenin gue nggak?” Sivia memelankan suaranya, berharap Alvin tidak mendengar. Tidak, Alvin ternyata mendengarnya.

You wish!” seru Alvin.

“Tapi gue nggak apal sama lorong – lorongnya.” Kata Sivia.

“Nyusahin aja sih lo. Yaudah, gue temenin. Kenapa nggak bareng si bebek aja sih lo?” gerutu Alvin. Sivia menegang di bangkunya, apa tadi? Ini cowok mau nemenin dia ke kantin?!

“Woi, jadi nggak?!” gertak Alvin. Dia paling males nunggu kayak gini, bikin moodnya langsung drop.

“Jadi – jadi..”

Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan diam. Tidak ada yang berbicara. Sepertinya, mengajak Alvin untuk ke kantin bareng adalah nightmare. SALAH BESAAARR!

“Apalin nih jalan, abis ini gue masih ada urusan OSIS.” Suruh Alvin. Sivia mengangguk pelan.

‘Oke Sivia. Kalau lo bener – bener cinta sama dia, harus tahan sama sifatnya. GANBATTE!’ tekad Sivia.

“Vin, si bebek siapa?” tanya Sivia heran.

“Bebek? Oh Shilla maksud gue.” Jawab Alvin.

“Kok bebek? Dia kan nggak manyun kayak paruhnya bebek.” Kata Sivia polos, sukses membuat Alvin tertawa. Sivia terpana melihat tawa Alvin. Untuk urusan Shilla, Alvin membuang jauh gengsinya di depan orang baaru.

“Lo kalau udah kenal sama dia, pasti tau deh maksud gue manggil Shilla bebek.” Jawab Alvin, nadanya nggak sedingin pas ketemu Sivia pertama tadi. Alvin rasa, Sivia cocok buat jadi parternya.

“Jahat lo! Kasian tau di panggil bebek. Nama Shilla bagus – bagus eh malah di panggil bebek.” Ujar Sivia sambil tertawa keci.

“Biarin. Abis mirip sih sama bebek.” Kata Alvin. Sivia geleng – geleng. Ternyata, Alvin nggak sedingin luarnya. Hati cowok itu ternyata lembut banget.

“Tuh kantinnya. Gue tinggal ya, ada urusan OSIS. Kalau kesasar, lo cari aja si bebek. Pasti dia lagi nongkrong di sana. Bye.” Alvin menaiki tangga yang terdapat di koridor sebelum kantin, menuju Ruang Osis. Dengan mantap, Sivia memasuki kantin yang padet banget pas jam istirahat. Hampir semua tempat diisi.

“SIVIA!” teriak seseorang. Sivia celingukan mencari sumber suara.

“GABUNG SINI AJA!” ajaknya lagi, kali ini tangannya ikut melambai. Shilla. Sivia segera berjalan menuju meja Shilla yang sudah terisi oleh ke dua temannya.

“Gue gabung ya…” izin Sivia sambil duduk di sebelah Shilla yang kosong. Shilla mengangguk.

“Eh iya guys, ini Sivia. Murid baru di kelas gue. Sivia, ini Ify sama Agni. Dia temen gue dari jaman SMP hehe.” Kata Shilla memperkenalkan Sivia pada Ify dan Agni.

“Halo gue Sivia, kepanjangan, panggil gue Via aja. Nice to meet you guys.” Ujar Sivia ramah.

“Via ya? Hehe gue Ify Alyssa, dia Agni.” Kata Ify. Sivia tersenyum.

“Eh iya, kok lo bisa nyampe ke kantin?” tanya Shilla heran

“Gue tadi di anterin sama Alvin. tapi anaknya lagi ke RO katanya.” Jawab Sivia. Shilla melotot.

“ALVIN?! ALVIN JONATHAN?!” pekik Shilla. Selama kenal Alvin dua tahun ini, Shilla nggak pernah liat Alvin deket sama anak baru.

“Dia namanya Alvin Jonathan ya?” Sivia balik tanya. Shilla mengangguk.

“Oh, yaudah. Gue beli air mineral dulu, haus hehe.” Pamit Sivia.

“Lo nggak cemburu dia deket sama Alvin?” tanya Agni. Shilla melotot.

“Cemburu? Sama si kodok jelek itu?! No way!” bantah Shilla

“Yakin? Ntar nyesel loh~” goda Ify. Shilla cemberut.

“Gue nggak cemburu. Ify maaaahhh” rengek Shilla.

“Penyesalan biasanya datengnya terakhir loh.” Agni menimpalil.

“Lo nggak usah rese deh Ag!” cibir Shilla

“Iye iye. Maaf non.” Agni cengengesan.

“Yakin? Nggak nyesel kalau misalnya dia jadian sama Alv?” tanya Ify serius.

“Suer deh suer! Nggak nyesel gue. Suka sama kodok aja enggak.” Bantah Shilla

“Untuk sekarang emang enggak Shill.. Tapi untuk besok dan seterusnya?” ujar Agni

“Untuk itu urusan nanti. Sekarang ya sekarang. Nggak usah ngedahuluin tuhan deh!”

“Loh, gue nggak ngeduluin tuhan, tapi…”

“Segeeerr! Eh iya Shill, Fy, Ag. Gue minta nomer kalian dong. Siapa tau aja gue butuh bantuan, kalian bisa bantuin.” Kata Sivia tiba – tiba.

“Sialan. Ngagetin aja lo Vi” gerutu Shilla.

“Hehehe maaf ya maaf. Refleks Sih.”

***

Semenjak saat itu, Alvin mulai dekat dengan Sivia. Kemana – mana berdua, sesekali berangkat bareng, atau nggak pulang bareng. Nggak ada lagi Alvin – Shilla yang suka berantem nggak jelas. Yang ada Cuma Alvin – Sivia yang lengket kayak lem sama perangko. Dan selama itu juga, Shilla uring – uringan nggak jelas. Nilai Fisikanya jeblok banget. Kalau dulu ada Alvin yang ternyata nyebelin tapi baik mau ngebantuin dia pas ulangan Fisika, sekarang nggak ada. Kalau dulu Shilla nepatin janjinya buat bawain Alvin sarapan, sekarang tugas itu diambil alih sama Sivia. Kalau dulu Shilla musuh besarnya Alvin tapi pernah berangkat bareng atau nggak main bareng – walaupun masih suka berantem – sekarang ada Sivia yang nangkring di jok belakang motor sportnya Alvin.

“Ya Allaaahhh gue kenapa sih. Bawaannya pengen marah – marah muluk?” keluh Shilla pelan saat di toilet.

“Apa gue mulai suka sama Alvin ya? Ah enggak – enggak. Dia kan musuh gue, masa iya tiba – tiba gue suka sama dia. Nggak, nggak mungkin” Shilla geleng – geleng kepala. Tiba – tiba, iPhone nya berdering, satu telepon masuk. Alvin.

“Halo?”

“……”

“Nggak ah, ganggu lo sama Sivia nanti.”

“……”

“Gue nggak mau Alvin! gue lagi pengen di rumah!”

“……”

“Ngeyel! Sekali nggak tetep nggak!”

“……”

“Iya iya! Fine!”

Shilla langsung menutup sambungan teleponnya. Lalu menghela napas keras.

“Apalagi cobaan mu ya tuhaaaaaannnn” keluh Shilla

***

Sesuai ajakan Alvin, malam ini Shilla, Alvin dan Sivia akan pergi ke pasar malam dekat perumahan mereka. – lagi lagi Alvin sama Shilla tentangga, di tambah Sivia – dengan mobil jazz putih Shilla. Alvin yang nyetir, di sebelahnya Sivia yang tampak cantik dengan menggunakan dress selutut dengan lengan se siku, dan flatshoes. Shilla duduk di belakang. Dia memandang pakaiannya. Hanya kaus warna ungu muda lengan panjang, dan celana pendek serta sepatu kets putih. Ya. Berbeda dengan dengan Sivia.

‘Anjir. Ini mobil siapa, yang duduk di belakang siapa.’ Batin Shilla keki

“Hahaha lucu banget sih lo Vi. Polos banget tau nggak!” seru Alvin saat mendengar cerita Sivia tentang dirinya semasa kecil. Shilla mendengus, lalu memasang headsetnya dan memutar lagu agak keras.

“Yah abisnya, gue kan ngiri. Body temen gue kan kurus, yah kalo gue kan agak berat. Badannya itu bisa keluar dari sela – sela pager, pengen coba kan nggak mau kalah. Pas masuk, eh gue nggak bisa keluar. Akhirnya nyokap jerit – jerit gitu, pantat gue di olesin pake minyak.” Cerita Sivia.

“HAHAHAHAHA ADUH YAAMPUN! Sumpah!” Alvin ngakak. Shilla pura – pura nggak denger sama cerita Sivia. Dia nyibukin diri nyindir – nyindir di twitter.

ashillazhrtiara: ngakak aja teros ngakak ajaaaa. Terus aja, obat nyamuk.

“Salah gue juga sih nerima tawarannya Alvin.”

Nggak lama, mereka sampai di pasar malem. Setelah markirin mobil ketiganya berjalan dengan Alvin dan Sivia di depan, Shilla mengekor di belakang.

“Kampret! Ngapain ngajak gue jalan kalau akhirnya gue di cuekin gini!” dumel Shilla. Sambil menyumpahi Alvin.

“Vin, gue mau beli gula – gula kapas bentar, lo sama Sivia jalan aja dulu. Nggak usah nungguin gue.” Seru Shilla. Alvin menengok. “Oke.” Setelah berkata seperti itu, Alvin kembali bercerita dengan Sivia. Shilla menghentak – hentakkan kakinya ke tanah. Lalu memutar badan dan berjalan menjauh.

“Gue pulang aja kalau kayak gini. Untung kuncinya ada di gue. Nyaho lo gue tinggal!” sindir Shilla, kemudian memasuki mobilnya dan meninggalkan area pasar malam yang cukup ramai.

“Shilla mana ya Vin? Kok nggak balik – balik? Perasaan abang – abang penjual gula – gula kapasnya di situ deh. Harusnya udah balik.” Heran Sivia. Alvin menggaruk tengkuknya.

“Iya juga ya, dia nggak balik – balik. Gue telpon dulu deh.” Alvin mengeluarkan handphone-nya dan mengetikkan beberapa digit nomor yang di hapalnya di luar kepala.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau di luar jangkauan.…”

Shit! Pake di matiin nomornya.” Umpat Alvin.

“Balik deh, gue nggak enak nih.” Ajak Sivia. Alvin mengangguk.

Saat tiba di parkiran, Jazz putih Shilla berganti dengan mobil avanza hitam.

“Anjir. Kayaknya kita ditinggal balik deh Vi.” Kesal Alvin. Sivia melongo.

“Yaaahhhh” keluh Sivia.

“Terus lo sama gue pulangnya gimana?” lanjutnya

“Terpaksa jalan kaki. Sebenernya nggak jauh – jauh amat sih.” Alvin mengangkat bahunya cuek.

“Yaudah yuk deh.”

Sepanjang perjalanan menuju rumah Shilla, Alvin terkadang melontarkan banyolan – banyolan yang menurut Sivia garing, tapi akhirnya ketawa juga.

“Hahaha aduh lo tuh, garing tau!” ujar Sivia saat tiba di depan rumah Shilla.

“Bodo!”

“Nyeh dasar.”

“Ehm…. Vi.” Panggil Alvin.

“Ya?”

“Lo mau nggak jadi cewek gue?” tanya Alvin to the point. Sivia melotot. Nada Alvin seperti dengan nada eh – gue – pinjem – pensil – dong.

“Nggak mau!” Sivia menggeleng. Alvin lemes.

“Kok nggak mau?!”

“Abis lo nggak romantis sih,” keluh Sivia.

“Gimana ya? Gue bukan tipe cowok romantis yang bisa ngasih lo segerobak mawar merah, gue juga nggak bisa ngerangkai kata – kata indah buat lo, gue juga nggak bisa ngelakuin aksi heroik di depan public. Tapi ini gue, Alvin Jonathan. Alvin yang punya seribu cara buat elo bahagia. Sivia Azizah.. would you be mine?” tutur Alvin lembut. Tidak ada bunga, tidak ada berlutut, ini murni Alvin Jonathan. Sivia menutup mulutnya, terharu. Sivia langsung menghambur ke pelukan Alvin. Alvin tersenyum.

Yes… I would.” Bisik Sivia.

I love you..”

I love you too…”

Dari balik jendela, Shilla sedari tadi melihat sebuah scene drama yang di lakoni oleh Sivia dan… Alvin. Shilla menyandarkan punggungnya pada tembok.

“Karma itu sakit banget ya ternyata. Gue bodoh, bodoh. Jatuh cinta sama orang yang seharusnya nggak boleh.” Isak Shilla.

“Gue nyesel sekarang, lo emang bodoh Ashilla… Lo kalah.” Lirih Shilla.

Shilla memutar radio yang ada di sebelahnya, mencari – cari gelombang yang sedang ada siaran.

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa
Cinta datang terlambat

Shilla meresapi bait lagu tersebut, yang menurutnya benar – benar menyindir dirinya. Shilla membuka sedikit gorden kamarnya, dan mendapati Alvin tengah mencium kening Sivia. Cukup. Sampai disini saja. Shilla menutup kembali gorden tersebut.

“Mungkin emang harusnya begini…” perlahan Shilla teringat tawaran mamanya tadi sore sebelum dia berangkat ke pasar malam.

Flashback

            “Mama dapat formulir fakultas kedokteran di Singapore. Kamu mau kesana?” tanya mama Shilla.

            “Singapore? Ma, kan masih ada unpad, UI, tapi kenapa harus Singapore?” kata Shilla pelan.

            “Singapore lebih menjamin kamu untuk menjadi dokter yang hebat besok nak. Kamu mau kan?”

            “Shilla pikir – pikir dulu ya.”

Off

            “Ma…” panggil Shilla saat mamanya sedang menonton televisi.

“Ya?”

“Shilla mau kuliah di Singapore.” Putus Shilla. Mama memandang anak tunggalnya takjub.

“Kamu yakin?” tanya mama Shilla

Shilla mengangguk. “Shilla mau berangkat dua hari lagi. Shilla mau tamatin SMA Shilla di Singapore sekalian.” Pernyataan Shilla kali ini, mampu membuat mama Shilla terlonjak

“Kamu…. serius?” Shilla mengangguk.

“Tapi kenapa?” lanjut mama Shilla.

“Nggak papa… Shilla Cuma sumpek sama Jakarta, Shilla pengen nyusul papa aja ke Singapore.” Jawab Shilla.

“Yasudah, kalau itu mau kamu. Mama akan dukung. Besok mama akan mengurus kepindahan kamu.” Kata mama Shilla lembut.

“Makasih maaa” Shilla memeluk mamanya.

‘Kenapa kamu jadi kayak gini nak? Apakah ini gara – gara Alvin?’ batin mama Shilla.

***

To: Ify Alyssa, Agni

Guys, gue pindah ke Singapore. Jangan kasih tau siapa – siapa ya. Diem aja nggak usah ngomong ke Alvin sama Sivia ya.

Nggak lama, iPhone Shilla berdering dua kali.

From : Ify Alyssa

Yah, kok mendadak banget sih?:”( aaaaaaaaa bakalan kangen banget sama lo nanti. Take care ya disana! ({})

To: Ify Alyssa

Hehehe gue juga pengen pindah kesana sekarang rencana abis UN taun depan, tapi gara – gara gue sumpek sama Jkt ya gue pindah skg. Langgeng sama abang iyo yaaaaa hampir setahun nih! :p

From : Agni

Mendadak banget?!:”( bakalan kangen gue sama ke-bawelan lo. Take care sissyyyy!!!

To: Agni

Hehe iya. Take care jg Ag! :*

            “Shilla! Ayo nak! Pesawatnya udah mau berangkat!” seru mama Shilla. Shilla mengangguk. Dia berdiri dan membenarkan letak blower hitamnya.

‘Selamat tinggal Jakarta. Kota kelahiran gue, tempat dimana gue kenal Alvin, cinta pertama gue. Dan semua kenangan pahit yang gue alami.’ Batin Shilla kemudian menyusul mamanya.

Sedangkan itu, sepulang sekolah Alvin mengunjungi rumah Shilla bersama Sivia. Ingin mencari kepastian kenapa dua hari ini Shilla tidak masuk sekolah tanpa keterangan yang jelas. Sivia bertanya kepada Ify dan Agni. Tapi kedua gadis itu menggeleng tidak tahu.

“Shill… Shillaaa!” panggil Alvin

“Shillll!!!” jerit Sivia

“ASHILLAAAA!!!!” teriak Alvin lebih kencang.

Gerbang terbuka, muncul bi Ijah dengan terpogoh – pogoh. Di tangannya terdapat sebuah surat dan iPod yang sengaja di tinggal Shilla.

“Maaf den Alvin, non Sivia. Non Shilla menitipkan ini untuk den Alvin. katanya teh, kalau den Alvin kesini. Bibi suruh kasiin ini ke den Alvin.” bi Ijah mengangsurkan iPod dan surat ke Alvin.

“Shilla kemana bi?” tanya Sivia penasaran.

“Sebenernya bibi tidak boleh memberi tahu non Shilla kemana, katanya, jawaban itu ada di surat yang di tulis non Shilla.” Jawab bi Ijah. Alvin mengamati kedua benda yang sekarang ada di tangannya.

“Yaudah, kita permisi bi.” Pamit Alvin. Bi Ijah mengangguk.

Disinilah mereka berada, di taman komplek. Alvin membuka surat beramplop merah tersebut.

Dear Alvin

Hai Vin apa kabar? Hehe pasti sekarang lo lagi sama Via ya? Langgeng ya. Maaf gue belum sempet ngucapin ke kalian. Ok. Gue to the point, gue pergi. Ke Singapore. Gue mau ngelanjutin SMA sama kuliah disana. Gue nggak tahu bakalan balik apa enggak. Sebelumnya, maaf. Waktu di pasar malem dulu, gue ninggalin lo berdua. Gue bete. Gue Cuma jadi obat nyamuk. Gue kesel. Gue putusin buat balik. Dan pas gue sampai di rumah, nyokap nawarin buat kuliah di Singapore, tapi gue mikir – mikir dulu. Gue ke kamar. Gue liat semuanya. Gue liat waktu lo cium keningnya Sivia, meluk Sivia. Disini, di hati gue. Rasanya itu sakit banget Vin. Setelah itu, gue bilang ke nyokap kalo gue mau ngelanjutin kuliah gue disana, ples SMA. Besoknya, gue nggak masuk. Tapi nyokap yang ke sekolah buat ngurus kepindahan gue. Gue mau jujur, mungkin ini klise. Alvin Jonathan, gue cinta sama lo. Nggak, gue Cuma mau ngungkapin aja. Abis ini, lo boleh benci gue gara – gara gue pengecut. Gue lari dari kenyataan. Tapi Cuma ini yang gue bisa, gue harap lo ngerti. Buat Sivia, gue nitip Alvin ya. Musuh gue, hehehe. Jaga dia, Cuma elo yang gue percaya buat jaga musuh gue yang satu itu. Lo nggak perlu nyusul gue ke Bandara, mungkin gue udah take off waktu lo baca surat ini. Abis ini, lo dengerin iPod gue ya. Cari voice memo. Cuma ada satu.

Sincerely

Ashilla Zee

Alvin buru – buru memasang headsetnya, satu ada di Sivia satu ada di dirinya. Alvin mengutak – atik iPod Shilla berusaha mencari apa yang di maksud Shilla. Setelah menemukannya, Alvin memutar voice memo tersebut. Terdengar intro alunan piano yang di yakini Shilla memainkannya

 

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa
Cinta datang terlambat

Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat

Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat

Cinta datang terlambat

Lagu itu, seakan menyindir Alvin. Akan keterlambatannya untuk menyadari bahwa Shilla mempunyai perasaan khusus untuknya. Alvin terlambat. Sivia menatap nanar Alvin, dia tahu, bahwa Alvin tidak rela, ralat, sangat tidak rela Shilla meninggalkannya. Musuh yang mampu membuat hari – hari Alvin lebih berwarna. Dan sekarang, Shilla pergi.

***

7 Tahun kemudian

Seorang wanita mendorong trolly bandara yang berisi penuh koper – koper besarnya. Hari ini, tepat dimana tujuh tahun yang lalu wanita ini meninggalkan Indonesia, tanah kelahirannya. Dan melupakan – tapi tidak bisa – cinta pertamanya.

Welcome home...” lirih wanita ini. Saat sedang melamun, tiba – tiba bahunya tersenggol sebuah tas punggung yang lumayan besar.

“Aduh…” rintih wanita muda ini. Orang yang menabraknya menoleh.

“Maafkan saya. Saya tidak sengaja.” Kata orang itu, wanita tersebut menunduk. Orang itu melepaskan kacamatanya. Tiba – tiba jantungnya berdetak dengan kencang.

“Shilla?” panggil orang itu pelan, berharap wanita ini benar – benar orang yang di carinya selama tujuh tahun ini. Wanita tersebut mendongak.

“Alvin….” lirih wanita muda tersebut.

***

TAMAT.

Oke, ini gaje banget. garing. cuma iseng aja sebenernya, buat nge gantiin touché-nya :p hehehe. gantung? emang sengaja. lagi miskin ide sebenernya. hehe maaf kalo ada typo. muehehe

@kinanthi99

Ashilla’s Birthday – AlShill FF

Hai, ini cerpen buat ulang tahunnya Shilla tanggal 25 Februari. baru post sekarang deh. ENJOY!

***

Pelajaran kelas Shilla di jam pertama dan kedua adalah Olahraga. Pelajaran yang paling di benci Shilla. Gadis ini jika sudah di satukan dengan bahasa Inggris atau Korea, pasti senang bukan main, berbanding seratus delapan puluh derajat jika di hadapkan dengan Olahraga yang setiap hari hanya praktek, perut nya bisa saja tiba-tiba sakit.

“Olaharaga mulu! Sebel gue!” gerutu Shilla. Sivia, Agni, Ify malah asyik dengan obrolan mereka tanpa memperdulikan Shilla. Shilla mengernyit. HELLOOO??!!!

“Fy! Ag! Siv! Kok gue di cuekiiinnn??!!” sebal Shilla sambil menggembungkan kedua pipi nya, sembari berkacak pinggang. Ketiganya menoleh.

“Hah? Kenapa Shill? Sorry kita lagi asyik bicarain anak kelas sebelah nih” jawab Agni dengan santainya.

Shilla mencibir, dasar nih kunyuk-kunyuk! Batinnya.

“Gossip apaan? Gue iku….tan dong” ujar Shilla yang tadinya semangat langsung lesu begitu melihat ke arah kanannya, kosong.. hanya ada koridor sekolah yang diisi segelintir siswa. Shilla cemberut.

“Sialan! Gue di cuekin!” geramnya, kemudian menyusul Sivia, Ify, Agni yang sudah lebih dulu berjalan ke arah lapangan.

Setibanya di lapangan, mata Shilla membulat. VOLI!

Alahmak.. Voli. Mana bisa gue…. Shilla jadi panas dingin sendiri. Se bebelnya Shilla dalam akademik, namun untuk urusan Voli, gausah di tanya deh. Rela nilainya kosong daripada tangannya sakit lagi sampai harus di urut oleh Mbok Jum. Pembantunya dari kecil, yang bisa apa aja!

“Baik anak-anak seperti yang kalian lihat, di depan kalian ada net . jadi, kita akan melakukan Voli untuk hari ini. Silahkan bagi dua tim putra dan dua tim putri.” Perintah pak Joe.

Shilla kembali merengut, olahraganya voli, eh sekarang malah teman-temannya bergabung dengan Zevana, Dea, Oik, anak kelasnya yang emang nggak ada tandingannya urusan Voli. Mantap!

“Shill! Elo udah ada kelompok belum? Kalo belum, sini gabung sama kita-kita aja!” ajak Acha. Shilla tersenyum tipis lalu mengangguk.

Permainan di mulai, kelompok Shilla di beri kesempatan untuk service bola untuk pertama. Karena posisi Shilla berada di belakang, jadilah Shilla yang service bolanya. Shilla meneguk saliva-nya ketika Aren menyodorkan bola voli kearahnya. Berwarna putih, namun ada bercak-bercak coklat di sekitarnya. Buduk ih!

Mau tak mau, Shilla men-service bola, namun apa daya. Bukannya melambung melewati net, yang ada hanya…

“ADUH!” teriak Nova refleks ketika merasakan ada hantaman di bagian kepalanya. Bola voli yang di service Shilla. Suara Nova yang menggelegar, langsung menarik perhatian semuanya yang berada di lapangan.

“Nova! Kamu tidak apa-apa?” tanya pak Joe sambil menghampiri Nova. Shilla mematung.

“Kepala saya pusing pak…” rintihnya.

“Alvin! bawa dia ke UKS.” Suruh pak Joe. Shilla melotot. ALVIN! ALVIN JONATHAN PACARNYA!

Alvin hendak memapah Nova, terhenti ketika Shilla berteriak. “Pak! Jangan Alvin dong! Yang lain aja kek!” bantahnya.

“Gausah pak, biar saya aja! Yuk, Nov!” bukannya pak Joe yang menjawab, malah Alvin yang menjawab, dan langsung ngeloyor sambil memapah Nova.

“Vin! Alvin!” teriak Shilla, namun Alvin hanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan jalan.

“ASHILLA! Ini kedua kalinya kamu mencelakai murid saya dan juga teman kamu! Kalau sampai mereka kenapa-napa, siapa yang di salahkan? Pihak sekolah! Dan ber imbas di saya! Bagaimana sih?!” bentak pak Joe.

Gue nggak suka di bentak… gue nggak suka di bentak! Mama… Shilla paling anti sama yang namanya di bentak.

“Silahkan buat surat pernyataan. SEKARANG JUGA!” perintah pak Joe dengan nada otoriter.

Shilla menghembuskan nafas. Lalu berbalik badan.

***

“SHILLA!” teriak Keke , anak kelas sebelah. Shilla yang lagi kesel, noleh dengan wajah kusut.

“Apa?” jawabnya jutek , sambil membuka lokernya.

“Ituuu.. . aduh… apa… itu.. elo……..Ahhhh apaaan.. punya elo…” ujar Keke dengan terbata, sembari mengingat-ingat apa yang ingin ia ucapkan.

“Apaan sih? Kalo ngomong yang jelas!” seru Shilla sinis. Membatalkan niatnya untuk membuka loker.

“ROK LO DI KIBARIN DI TIANG BENDERAAA!!!!”

Mata Shilla melotot. Heh?! Yang bener aja???!!!! Cepat, Shilla membuka lokernya. Benar saja! Hanya terdapat hem putihnya, dan beberapa buku.

“MPUS! ROK GUEEE!!!!” Shilla langsung berlari menuju tiang bendera sekolahnya, meninggalkan Keke yang menganga di tempatnya.

Setibanya Shilla di lapangan, sudah banyak anak – anak yang nangkring di sekitar tiang bendera . begitu melihat Shilla datang,

“HAHAHAHAHA Shill! Rok lo tuh!” ledek Gita cs. Kumpulan – kumpulan orang popular di Sekolah.

“Berasa rok lo kece aja Shill. Sampe lo kibarin di tiang duuuhhh malunyaaa” ledek Zahra. Shilla manyun se manyun-manyunnya. Di hentakkan kakinya, dan berjalan cepat menuju kelasnya. Terlihat, semua teman-temannya berada di dalam kelas. WOW!

Sivia lagi ngelipet bajunya sambil ngedengerin lagu dari headsetnya, Agni lagi ngerjain tugasnya pak Ahmad, guru Matematika yang lagi ada rapat di luar sekolah, Ify lagi baca novel, Rio sama Cakka asik genjreng-genjreng pake gitarnya , Gabriel sibuk sama iPhone barunya, Alvin sibuk ngotak-atik rubik yang gajadi-jadi dari tadi.

Sebenarnya, Shilla mampu buat turunin roknya sendiri, tapi, pas dia liat iketannya, duh nggak deh. Kenceng banget ngiketnya.

“HELLOOO ADA YANG MAU BANTUIN GUE BUAT BUKA IKETANNYA TALI BENDERA NGGAK?” teriaknya nyaring. Semuanya menoleh, kemudian balik ke aktifitasnya.

“Thanks!”

***

Shilla masuk kembali ke kelasnya, dengan bawahan masih celana olahraga, atasnya hem OSIS dengan muka di tekuk. Berniat meng-update status twitternya, Shilla mencari iPhonenya.

“IPHONE GUE MANAA???!!!!” serunya sambil membongkar seluruh isi tasnya.

“LOH???!!! KUNCI MOBIL GUE???!!!!” teriak Shilla saat menyadari, bukan hanya iPhone nya saja yang hilang tapi kunci mobil nya juga lenyap.

“HUAAA MAMAAAAAA”

Pelajaran Fisika diikuti Shilla dengan wajah sendu, kayaknya dia kok sial banget ya hari ini. Tadi pagi kena marah pak Joe gara-gara nggak sengaja nimpuk Oik pake bola Voli, di cuekin sekelas, rok nya nyangsang di tiang bendera, iPhone nya hilang, kunci mobilnya juga hilang. Alamak!

“ASHILLA!” gertak pak Budi. Shilla yang lagi melamun tersentak.

“Iya pak!”

“Cepat! Kerjakan soal ini! Sampai benar!” suruh beliau. Shilla bangkit dari duduknya. Lupa kalau bawahannya nggak pake rok abu-abu.

“Kemana rok kamu, Ashilla?” tanya pak Budi . Shilla terpaku.

Oh my gosh! Me girl lupa kalo gue nggak pake gray skirt! LIKE MG! Batin Shila.

“EEEE anu pak. Rok saya basah iya, basah” alibi Shilla. Anak-anak yang mendengar alibi Shilla nahan ketawa. Pak Budi memicingkan mata.

“Tapi hari ini lagi nggak hujan…”

“Nah itu dia pak! Tadi pas saya ganti baju, roknya nyemplung di bak mandi. Iya..” ujar Shilla ngeles.

“Sekolah kan memfasilitasi ruang ganti. Bagaimana bisa jatuh ke bak mandi? Ah kamu bohong ya.”

“Haahh.. rok saya nyangsang di tiang bendera pak” jujur Shilla.

“KELUAR KAMU! Bersihkan bis sekolah . SEMUANYA!” Shilla terperanjat. Dia nggak bikin salah kok di hukum?!

“Tapi pak…”

“Tidak ada tapi-tapian. Laksanakan atau saya tambah hukumannya” Shilla cemberut, kemudian keluar kelas.

***

Pukul 02.00 , satu jam lagi sekolah bubar. Satu bis memakan waktu satu jam untuk membersihkan. Sedangkan bis sekolah ada tiga buah. Dan kini, Shilla tengah menatap bis ketiganya.

“Coba aja, ada alatnya doraemon ya bis, pasti lo udah kinclong dari tadi” kata Shilla sambil menatap bis sendu.

“OKE! HWAITING ASHILLAA!”

Pukul 02.55 , Shilla menyelesaikan tugasnya. Penampilannya kali ini benar-benar kacau balau. Lecek banget!

Shilla melempar sembarang  lap yang dia pinjam dari petugas kebersihan sekolahnya, dan langsung berbaring di halaman .

“Kunci sama iPhone gue ilang. Gimana gue ngomongnya tar ke bokap sama nyokap.” Gerutunya. “Balik ke kelas deh”

Sampainya di depan kelas, Shilla menatap bingung kelasnya. Ini sepi amat? Sekolah udah bubaran dari lima menit yang lalu, tapi tanpa satu pun anak kelasnya yang keluar. Shilla mendorong pintu kelasnya.

“HAPPY BIRTHDAY SHILLA, HAPPY BIRTHDAY SHILLA, HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY ASHILLA” nyanyi anak-anak kelas diiringi tiupan terompet dan kertas-kertas warna warni yang jatuh dari atas.

“SEBEL! SEBEL! SEBEL!!!!” teriaknya, kemudian menangis. Berjongkok, dan menelungkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

“Hei, kok nangis sih? Hmm?” tanya Alvin sambil jongkok di depan Shilla. Shilla masih saja terus menangis. Alvin menarik tangan Shilla, lalu berdiri dan memeluknya.

“JAHAT! JAHAT! JAHAT! AAAAA”  jeritnya. Alvin tersenyum. Di usapnya rambut Shilla.

“Udah dong, jangan nangis. Sweet Seventeen nih. Masa nangis?” goda Alvin. Shilla melepas pelukannya.

“Jahat!”

“Happy birthday dear. Semoga di umur kamu yang ke 17 ini, kamu makin dewasa, makin cantik, makin pinter. Makin ++++ deh! Tetep sama bang Alpin ya..” Shilla menangis, lalu mengangguk. Di kecupnya dahi Shilla.

“TIUP LILINNYA TIUP LILINNYA”

Shila tersenyum, kemudian menutup matanya untuk memanjatkan doanya di umur 17 tahun ini. Shilla meniup  lilinnya.

“HAPPY BIRTHDAY ASHILLA ZAHRANTIARAAA!!!”

PLOK.

Tepat saat Shilla selesai meniup lilin, Gabriel langsung menumplukkan cakenya ke wajah Shilla. Shilla kaget, refleks langsung terjatuh

“HUWAAA!!” Cepat-cepat Shilla berdiri langsung berlari.

***

LAPANGAN

Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Shilla dan anak-anak kelasnya, kebanyakan murid memang pada nongkrong di lapangan selepas bel pulang berbunyi.

Se cepat apapun Shilla berlari, tetap saja tersusul dengan Gabriel dan Cakka.

Plok plok plok.

Shilla di ceplokin telor sama tepung , al hasil langsung amis semua.

“HUEKS”

“SEBEL IH SEBEELL” jeritnya.

“KERJAAN LO KAN IH!” teriaknya pada Sivia, Ify, Agni yang ketawa-ketawa gara-gara Shilla di kerjain.

“Gimana Shill, di kerjain satu hari? Hn?” tanya Ify.

Shilla manyun. “Jahat lo semua!”

“iPhone lo nih Shill” Alvin memperlihatkan iPhone 4s White Shilla .

“Eh fotoin dong!” pintanya. Diiringi cengirannya.

“Ye dasar..”

***

Sincerely

@Kinanthi99

XII IPA 2 ( Chapter 2 – Last Part )

Ini mungkin alurnya agak kecepetan. Dan maaf saya memang masih penulis amatir. Let’s Enjoy!

WARNING! Typo bertebaran dimana-mana , gue males ngedit :p 

*** 

Anak-anak lagi pada nonton film pake laptopnya Shilla, mumpung tuh kelas punya layar projector , ples speaker , lumayan deh, buat nonton film. Mereka lagi free program abis TPM a.k.a Tes Pedalaman Materi. Semacem Try Out gitu.

Setelah banyak cek-cok , akhirnya semuanya pada setuju nonton Scre4am. Dayat sama Septian udah borong makanan ples minumnya dari kantin. Sebelumnya, mereka berdua pada narikin duit anak sekelas buat beli dua barang itu.

“CUIT CUITTTTTTT CIEEEEEE” seru satu kelas. Akibat, backgroud Mac Shilla bareng Alvin. Banyaaaaaaaakkkk banget. Mulai dari jaman Kelas X, XI, sampe XII. Mana pake acara rangkul-rangkul juga.

“ASEEEKKK! PJ!” teriak Sion.

“KOPIN DIEM-DIEM MENGHANYUTKAN CIEEEEE” anak-anak semakin gencar menggoda dua anak manusia ini, yang pipinya udah kayak kepiting yang di rebus kematengan.

“JATUUUH CINTA OH SEJUTA RASANYA OH DIAAAA BISAAA MEMBUATKU MEINGGILAAA” nyanyi Cakka.

“WOIII BERISIK CAKDUT!” protes Agni. Cewek itu lagi asik-asiknya makan jajanan yang dia bawa sendiri dari rumah, keganggu sama suara – yang sebenernya keren – Cakka yang menurut Agni bisa bikin kuping cepet budek.

“Elo juga berisik kali!” bela Cakka,

“Elo dulu yang mulai!”

“Lo!”

“Lo!

“Iyaa astaga Agnoy, gue bilang nya elo bukan gue ya.”

“Heh! Kuping gue masih normal kali. Iya elo! Elo kan nyebutnya Elo!” balas Agni.

“Mas, mbak, nek meh berantem yo ojo ning kene tho yo. pelem’e wis meh di mulai kok yo jek ribut ae” tegur Oik. Aha! Oik itu pindahan dari Jogja beberapa minggu yang lalu, ini anak, kalo ngomong emang masih pake bahasa jawa. Susah banget pake bahasa Indonesia. Emang paling bebel di pelajaran sastra ibunya itu.

“lha iki! Cakka sikik kok yo sing mulai. Lapo nyalahke aku tho…” jawab Agni. Shilla yang dari tadi nahan malu, jadi diem. Ini anak tiga pada ngomongin apaan sih? Alien.

“Sion sikik nyong! Dudu aku.” Seru Cakka.

“Wis lah, maaf-maafan ae. Ngalah siji!”

“Gah!” jawab Agni cepat.

“Yo wegah no Ik! Lapo aku kon njaluk ngapura karo cah petakilan koyo ngene. Mesakke aku nek sesuk de’e kudu tuku helm anyar …”

“Maksutmu ki yaopo!”

“CAKKAAAA AGNIIII. MAU NONTON NGGAK SIH LOOO?” teriak Shilla. Suarnya langsung menggelegar seisi ruangan.

“Mulai aja deh Shill! Kelamaan kalo nunggu mereka mah.” Ujar Zahra. Satu-satunya cewek di kelas ini yang cinta mati sama film horror.

Shilla lalu mengklik tombol play pada layar dekstopnya, setelah film dimulai. Cewek itu balik ke tempat duduknya. Di sebelah Alvin.

Alvin – Shilla. Hubungan mereka masih tanda tanya, jadian apa enggak? Kok di Background layar Macnya mesra amat….. bikin kepo yea-_-

Kelas ini berubah menjadi hening total. Jaraaangggg banget, ato bisa diitung pake jari kelas ini bener-bener hening total kayak gini, pas ulangan aja masih sempet-sempetnya makan kerupuk sama ngobrol. Di kelasnya pak Wayan pula-.- denger-denger beliau gamau ngajar lagi di kelas ini. Cukup deh, botak di kepala bagian tengahnya, jangan nambah-nambah.

Katanya eh katanya, beliau udah gakuat lagi ngajar Matematika di kelas ini. Gasanggup banget coy! Pas pak Wayan mau hengkang dari kelas XII IPA 2, sempetnya aja ada yang ngeledek.

‘Iman bapak masih tipis banget sih, like triplek OMG. Ngajar aja gabetah kayak gini..’

Tuh! Gimana nggak mau sakit hati juga! Pelajaran terakhir, ngisi terakhir, tapi tetep aja di buat naik darah sama muridnya.

Staff sekolah yang emang udah tau kelas ini paling rame diantara lainnya, bingung. Lha kok? Tumben aja ini kelas diem, hening kayak gini.

“HUAAA MAMAAAA SETANNYA JELEK BANGEEETTTT” jerit Cakka histeris langsung ngumpet di belakang Agni.

“Anjrit. Malu gue Kka, punya cowok kayak elu” keluh Agni.

“HUAHAHA CAKKA TAKUT SETAAANNN” ledek Aren.

“HAHAHAHA”

***

MENJELANG UJIAN TENGAH SEMESTER.

 

Siswa-siswi SMA Citra Bangsa disibukkan dengan macam-macam ulangan. H-4 Ujian Tengah Semester. Dan berarti, nggak lama bakal UN! Dan artinya, waktu buat kumpul jadi satu gini Cuma butuh beberapa bulan lagi. Abis itu, free.

“Ulangan… ulangaannn everywhere” keluh Shilla.

“Hooh! Membunuh secara perlahan kalo ini maahhh” seru Agni. Abis ini, bakal ada ulangan Fisika. Biarpun Bu Dina, guru muda yang satu itu. Kalo bikin soal mah, jamin deh, nilai tertinggi 74! 74 GUYS! SO MALU BANGET KAN LIKE MALU DI DENGKUL MG MG

“Aduh.. stres gueeee” suara Gabriel menggelegar .

“Yoi!” dukung Rio.

“Bisa nggak sih? Bu Dina tiba-tiba sakit, terus abis itu gajadi ulangan. Terus kita free deh. Bisa nggak?” tanya Daud. Nih anak kalo ngomong emang keras banget. Biarpun ngomong biasa, beh tapi bisa kedengeran sampe ujung kelas.

“Bener tuh Ud! Setuju mah gue, rejeki nomplok deh…” dukung Sion. Yang duduknya pojok belakang.

Dalam hati, anak-anak nge-amini ucapan Daud . Nggak lama, bel terdengar.

Dewi Fortuna lagi berpihak pada Bu Dina. Doi masuk dengan menenteng seberkas soal yang diyakini soal ulangan hari ini.

“Selamat siang anak-anak. Silahkan keluarkan kertas dan alat tulis. Buku yang bersangkutan dengan pelajaran ini silahkan di masukkan” perintah bu Dina tegas. Anak-anak langsung ngelakuin.

“Ibu makin cantik deh. Makin buat saya klepek-klepek deh” gombal Cakka. Anak itu mulai genitnya. Agni Cuma diem. Dia tau, ada maksut tertentu Cakka ngomong kayak gitu.

“Diem kamu! Kerjakan soal” kata bu Dina dingin

“Tapi saya nggak bisa fokus tuh bu. Fikiran saya isinya Cuma nama ibu. Dina Ranty Maria. Nama yang indah, se indah orangnya” Cakka semakin gencar menggoda. Bu Dina udah nahan marah. Nih kalo bukan muridnya udah di timpuk kali.

“Kau… bagaikan pelangi. Menghiasi langit selepas hujan… dan juga menghiasi hatiku yang mendung…”

Yang lain pada cekikian nggak jelas gara-gara syair ngawur Cakka. Bu Dina yang udah nggak punya kesabaran, langsung keluar.

Anak-anak langsung bersorak. Langsung saja pada buka buku, dan nyari soal yang persis, tapi angkanya beda.

Tap tap tap

Bunyi lantai yang bergesekan dengan ujung hak mendekat, refleks, anak-anak kelas XII IPA2 langsung mengembalikan buku tulis mereka ke dalam tas. Pintu kaca terbuka, muncul bu Dina dengan muka merah padam. Menahan malu, kesal, dan marah.

“Eh bu Cantik. Masuk lagi, bikin saya tambah semangat ngerjain ulangan nih bu” cetus Cakka. Anak-anak nahan ketawa denger gombalan yang di jamin bikin hidung bu Dina kembang – kempis. Tengil!!!!

“Kerjakan ulangan kalian. Lima menit lagi kumpulkan.” Bu Dina balik keluar. Doi nggak tahan di kelas ini, untuk jam ngajarnya Cuma satu jam, coba tiga jam?!

Dengan keluarnya bu Dina dari kelas, anak-anak langsung buka buku lagi buat nyalin jawabannya. Nggak lama, bu Dina masuk lagi. Tepat! Selesai menyalin.

“Kumpulkan jawaban kalian dan soal di sini” perintah bu Dina. Cakka dengan tampang tengilnya deketin bu Dina.

“itu.. yang merah-merah hot banget tuh bu” goda Cakka.

Bu Dina nggak ngerespon. Pura-pura menyibukkan diri dengan kertas jawaban dan soal murid-muridnya, dan menyusunnya.

“Merah, putih lagi. Waaahh kalo saya nggak murid SMA mungkin saya udah pacarin ibu..”

Anak-anak kelas ketawa kecil. Yang di maksud Cakka Merah, putih lagi itu bolpoint bu Dina yang warna putih, tapi tinta merah. Yakin deh, kalo IQ nya jongkok mungkin yang di maksud Cakka itu –Yah – you – know – what –  lah.

“Selamat siang”

Setelah bu Dina keluar dan menghilang dari pandangan , langsung aja…

“HAHAHAHAHA CAKKAAAAAA” anak kelas langsung pada ketawa – ketiwi begitu ingat banyaknya gombalan Cakka.

“CAAKKKAAA GOOD JOB! TENGKYUUU”

“ANJRIT CAKKAAAAA TENGIL ABIS!”

“GANAHAAAANNNN MERAH PUTIH LAGI. HAHAHAHAHAHAHAHA”

***

2 Bulan Kemudian , setelah Ujian Nasional.

 

“Guys, nggak kerasa ya kita udah selesai ujian. Berarti waktu kita ketemu tinggal satu bulan aja. Itu pun nggak semuanya. kayaknya baru kemarin gue ngehuni kelas ini. Bareng sama kalian-kalian” ujar Shilla. Saat itu, anak-anak lagi pada ngumpul di kelas setelah ujian selesai.

“Gue pasti bakal kangeeeeeeeennnnnnn banget sama kalian” dukung Ify. Rio hanya mampu tersenyum di sebelahnya.

“Apapun hasilnya nanti, kita udah usaha semaksimal mungkin. Kita masuk bareng-bareng, lulus juga bareng-bareng ya..” ujar Sivia getir

Otomatis, anak kelas yang denger  ucapan Sivia tadi, langsung pada diem. Merenung. Benar, mereka masuk ke SMA Citra Bangsa, salah satu SMA Favorite di Jakarta, bersama-sama. Dan lulus dari bangku masa-masa yang paling indah dalam fase pubertas, bersama-sama juga. Apapun hasil ujian mereka nanti, mereka sudah semaksimal mungkin dalam mengerjakannya.

“Ehm.. gue sebagai mantan ketos disini, gue mau ngumumin. Tiga hari setelah pengumuman, kita bakal ngadain pensi sekaligus pelepasan angkatan kita sekarang, dan dua hari setelah pensi, sekolah ngadain acara promnight. A night to remember. Gue harap, di acara promnight kalian semua dateng, karena… abis acara mungkin kita nggak bakal ketemu lagi dalam lingkup yang sama. Kita udah nempuh jalan kita sendiri. Kita juga udah milih universitas mana yang bakal kita dudukin.” Kata Gabriel. Agak berat juga ngomong kayak gitu.

Anak-anak yang tadinya ada beberapa yang males dateng ke promnight langsung ngangguk. Mereka sadar, setelah acara itu mungkin mereka nggak bertemu.

***

 

HARI KELULUSAN

 

INILAH! INI! Hasil akhir mereka dalam tiga tahun menempuh masa putih abu-abu. Hasil yang mereka tunggu-tunggu satu bulan setelah Ujian Nasional tingkat SMA selesai di gelar. Orang tua mereka berada dalam gedung auditorium, guna melihat hasil akhir anak mereka.

“SEKOLAH KITA LULUS 100%!!!!!!!!!!!!!!” teriak seorang siswa yang memang mendengarkan kicauan kepala sekolah dari awal, langsung berteriak histeris ketika mendengar pernyataan sang kepala sekolah jika sekolah mereka – angkatan tahun ini – lulus 100%

Siswa-siswa yang dari tadi mondar – mandir gajelas gara-gara panik sama pengumuman, langsung pada teriak.

“YAAAAAAAAAAAAYYYYYYY!!!!!!”

Setelah itu, yang terjadi hanyalah saling coret mencoret dengan pylox yang sudah mereka bawa dari rumah sebelumnya, guna merayakan kelulusan mereka. Tidak sampai lima menit, seragam SMA mereka sudah penuh dengan berbagai semprotan pylox warna-warni dan bubuhan tanda tangan serta pesan-pesan .

“KITA SUKSES BROOOO!!!” teriak Sion . suara rockernya yang emang udah bikin mrinding, tambah bikin bulu kuduk merinding. Ganahan coy!

“YOIIII” balas Dayat.

***

IT’S TIME TO PENSI!

 

Dua hari setelah pernyataan pengumuman kelulusan, sekolah mengadakan acara pensi dan merangkap sebagai acara pelepasan siswa-siswa SMA Citra Bangsa angkatan tahun ini. Orang tua juga ikut hadir dalam acara ini.

Setelah semuanya menampilkan pentas, kini tiba saatnya kelas XII IPA 2 unjuk ke bolehan. Semuanya berbaju serba putih dan celana pendek di atas lutut, serta sepatu kets dan sapu tangan. Untuk ceweknya.

Musik mulai mengalun, semuanya bernyanyi dan menari, sesuai koreografinya.

Diantara musim gugur dan dingin

kita bersama berniat mengambil jalan pintas

menggunakan belokan masa depan dan kebaikan

dan juga melupakan sang angin

Sayonara kau bisikkan

ekspresimu saat itu

sinar mentari tak sampai

cinta itu tlah layu dan gugur

jejak pesawatnya dilangit
garis putih lurus memanjang

perasaan siapa yang masih ada
tanpa mampu menoleh ke belakang

jejak pesawat sewaktu-waktu
seperti cakar tajam menusuk

meninggalkan bekas tipis luka lalu
dengan tatapan kosong diriku memandang

kucing yang lewat entah darimana

kita bersama dan lihat kita seperti apa

dan dicoreti oleh anak-anak jalanan aspal

melangkahi semua kenangan

suatu tempat kita berdua mungkin kan bertemu lagi

karena ditempat kenangan terlalu banyak orang-orang

cinta itu jejak pesawat
satu gores kuas yang tipis

ke hari kita tak dapat kembali

dengan sedih tak dapat melangkah maju

seperti jejak awan pesawat
bak sembunyikan airmata

jauh aku rentangkan tangan kanan

dirimu yang telah meninggalkan kesedihan

jejak pesawatnya dilangit
garis putih lurus memanjang

perasaan siapa yang masih ada
tanpa mampu menoleh ke belakang

jejak awan pesawat cinta
bagai mengejarnya dari belakang

walau sedih terlambat sebenarnya
suara pesawat dilangit dan tangisan

jejak awan pesawat
bak sembunyikan  airmata

jauh aku rentangkan tangan kanan

dirimu yang telah meninggalkan kesedihan

Pada bagian akhirnya, semuanya melemparkan sapu tangannya ke atas , diiringi sorak-sorai siswa. MEREKA LULUS!

Tamu, guru dan murid-murid kelas X, XI yang memang datang untuk melihat pensi tepuk tanga. Ini terakhir kalinya mereka melihat kelas XII IPA 2 yang mereka elu-elukan tampil.

***

Promnight , Gedung Serba Guna BSD City, 20.00 p.m.

 

Semuanya berpenampilan glamour , elegant . Dress dengan label designer terkenal melekat pada tubuh mereka. Jamin deh, lumayan bisa washing eyes buat yang ngakunya Jomblo high quality :p

Shilla sudah mempersiapkan sepatah katanya untuk di bacakan nanti , setelah perfom. Dan little surprise inside dan bener-bener Cuma Shilla dkk yang tau. Dan bakal jadi a night to remember banget deh!

Setelah sambutan dari ketua panitia, yang di ketuai Goldi , ketua Osis penerus seorang Gabriel Stevent Damanik. Ketua Osis paling oke punya dalam sejarah di SMA Citra Bangsa, teman-teman perwakilan dari kelas masing-masing menunjukkan bakatnya.

Ada yang sibuk foto-foto, ngobrol, makan dan  lain-lain. Menggunakan waktu sebaik mungkin untuk malam ini. Malam terakhir berkumpul bersama teman seangkatan mereka.

Kini, tiba giliran Shilla menyampaikan pidato singkatnya.

“Selamat malam semuanya, saya Ashilla Zahrantiara perwakilan dari kelas XII IPA 2. Disini saya akan menyampaikan sepatah dua kata tentang sahabat – sahabat saya tercinta di XII IPA 2. Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari kelas ini, kelas yang menurut saya anak-anaknya seru, gokil, asik, and everything” Shilla tersenyum.

Because of them I know what the true meaning of family, friendship, and love.” Lagi-lagi Shilla berhenti. Tiba-tiba layar projector yang terpasang di belakang mimbar tempat Shilla berdiri menyala, dan memutarkan berbagai video kenangan mereka semasa kelas XII.

“HAIII SEMUAAA KENALIN GUE CAKKA NURAGA. COWOK PALING KECE DI KELAS INI!” ujar Cakka pd ketika Shilla mengedarkan SLR nya ke sepenjuru ruang kelas barunya.

 

“Ambrot Cakka! Narsis lo gailang juga ya!” seloroh Rio. Cowok itu lagi asik mainin sketsa wajah Ify di buku sketsa. Cakka menengok.

 

“Cih, bilang aja lo kalah ganteng sama gue”

 

Semuanya yang hadir pada acara tersebut langsung ketawa gara-gara liat Cakka kayak gitu.

Orangnya Cuma mesem-mesem penuh arti,

“Haiii semuanyaaa! Gue Nur Wahid Hidayat. Just call me Dayat. Gue punya sohib dari jaman gue menginjakkan kaki di SMA ini , This is, Raja Sion Naiambaton!” kata Dayat sambil merangkul bahu Sion tatkala kamera Shilla menangkap wajah mereka. Sion Cuma senyum.

 

“And this, si kucritnya XII IPA 2, Bastian Bintang Simbolon!” Shilla mengarahkan kameranya ke wajah tengil Bastian. Rambutnya blondie dan keriting tertutup dengan kupluk warna hitam.

 

“Hoik!”

 

Video berganti, menampilkan video dimana untuk pertama kalinya anak XII IPA 2 yang cowok di hukum sama guru BK. Gara-gara pas jam pelajaran pada mainan basket di lapangan. Terlihat, cowok-cowok pada lari keliling lapangan basket sebanyak enam kali.

“Sumpah! Tuh guru ngeselin abis! Masa iya, gaboleh main basket di lapangan basket pas jam pelajaran? Alesannya nggak logis banget ‘nanti mengganggu kelas yang lain’ heloooo emang nih kelas Cuma di lantai satu doang?! Dih gabanget! Kalo gue main basket di lapangan sepak bola nah ini baru di salahin!” tutur Alvin menggebu-gebu.

 

Semuanya melongo melihat Alvin ngomong banyak kayak gitu, Alvin yang mereka kenal Alvin yang dingin, cuek,  dan gapernah senyum!

 “Yoi Vin! Gila! ENAM KALI BROOOOO” dukung Riko.

 

“Dia kira nih lapangan basket segede daun kelor apa yak, gede gini! Set daahhh” keluh Cakka , wajah putihnya menjadi kemerah-merahan, akibat sinar matahari.

 

Video berganti lagi, kali ini menampilkan jogetan maut ala Cakka dan Gabriel.

“HIDUP TANPA CINTA BAGAI TAMAN TAK BERBUNGA. HAI BEGITULAH KATA PARA PUJANGGAAA. SEEEERRRR” Cakka mulai sintingnya, sambil joget joget ala soneta band.

Cakka turun dari meja dan menghampiri Gabriel. “Yel! Satu jam saja!” suruhnya.

 

“SATU JAM SAJAAAAA….” Dua cowok keren itu mulai goyang itik. Dengan hebohnya Cakka, sampe pantatnya di tonjolin terus. Sambil pasang muka innocent .

Anak-anak langsung pada ngakak bagian ini, seketika ruangan di penuhi gelak tawa para peserta dan guru yang memang hadir. Tersangka utamanya malah ketawa-ketawa gajelas.

“DUH ADUH MEMANG ASEEEKKK PUNYA PACAR TETANGGA~ TIAP HARI BERDUAAN NGGAK USAH BUANG DUIIITTTTT” Gabriel nyambung, disusul goyang gergajinya mbak DP.

 

“TAK ADA MALAM MINGGUAAAANN MALAM APAPUN SAMA SEEERRR GOYANG BAAAANGGGGG” Cakka tambah heboh goyangannya.

 

“IWAK PEYEEK IWAK PEYEK NASI JAGUUUUNGGG SAMPAI TUWEK SAMPE KAKEK CAKKA TETEP GANTEEENGG” Nyanyi Cakka.

 

“SEKUNTUM MAWAR MERAAAHH~ YANG KUBERIKAN KEPADA VIAAA” nyanyi Gabriel sambil menyodorkan se pot mawar merah yang baru keluar kuncupnya. Sivia melotot.

 

Sivia nahan ketawa dari tadi, tak bisa menahannya lagi. Langsung ngakak sengakak ngakaknya.

Video berganti, menampilkan sosok Alvin Jonathan berdiri di atas meja guru. Perasaan Alvin nggak enak, kayaknya kenal nih sama kejadian ini.. jangan-jangan…

“IWAK PEYEK IWAK PEYEK……” Alvin mulai nyanyi Iwak Peyeng dengan jogetan Gotix ala Alvin

 

“HUAHAHAHAHHAHA”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA”

Tawa meledak seisi ruangan, Alvin merutuki Shilla. Ngapain ngambil video gituaaaannnnhhh???

Video berganti, menampilkan Rio yang dipaksa minum Jus Duren ketika ulang tahun.

 

“Ogah Vin OGAAAAHHH” seru Rio, meronta-ronta. Anak kelas yang liat Cuma diem, mau ketawa juga nggak sopan, mau peduli juga nggak bisa. Setan!

 

“CAKKAAA” teriak Gabriel dari samping Alvin. ngos-ngosan juga kejar-kejaran keliling sekolah. Seragam ketiga anak itu udah nggak bentuk. Amburadul . dasi longgar, bajunya keluar, kaos putih polos keliatan, rambut juga udah nggak oke.

 

Cakka datang dari arah tangga, berjalan dengan santai, di tangannya terdapat satu gelas jus Duren. Penasaran, anak-anak kelas ples kelas lain yang lagi kosong pada keluar. Alvin membalikkan tubuh Rio disaat Cakka berjongkok di sebelahnya.

 

“Lo harus minum ini Mario..” goda Cakka sesaat menyodorkan gelas jus itu. Rio menutup mulutnya rapat-rapat. Gabriel langsung bertindak, di cekalnya kedua pipi Rio. Membuka secara paksa mulutnya.

 

“GABRIEL OI GABRIEEELL” rintih Rio.

Semuanya ketawa, benar-benar spesial kelas XII IPA 2 ini!

Video berganti, menjadi debat tidak penting antara Cakka dan Agni.

 

“JATUUUH CINTA OH SEJUTA RASANYA OH DIAAAA BISAAA MEMBUATKU MEINGGILAAA” nyanyi Cakka.

 

“WOIII BERISIK CAKDUT!” protes Agni. Cewek itu lagi asik-asiknya makan jajanan yang dia bawa sendiri dari rumah, keganggu sama suara – yang sebenernya keren – Cakka yang menurut Agni bisa bikin kuping cepet budek.

 

“Elo juga berisik kali!” bela Cakka,

 

“Elo dulu yang mulai!”

 

“Lo!”

 

“Lo!

“Iyaa astaga Agnoy, gue bilang nya elo bukan gue ya.”

“Heh! Kuping gue masih normal kali. Iya elo! Elo kan nyebutnya Elo!” balas Agni.

 

“Mas, mbak, nek meh berantem yo ojo ning kene tho yo. pelem’e wis meh di mulai kok yo jek ribut ae” tegur Oik. Aha! Oik itu pindahan dari Jogja beberapa minggu yang lalu, ini anak, kalo ngomong emang masih pake bahasa jawa. Susah banget pake bahasa Indonesia. Emang paling bebel di pelajaran sastra ibunya itu.

 

“lha iki! Cakka sikik kok yo sing mulai. Lapo nyalahke aku tho…” jawab Agni. Shilla yang dari tadi nahan malu, jadi diem. Ini anak tiga pada ngomongin apaan sih? Alien.

 

“Sion sikik nyong! Dudu aku.” Seru   Cakka.

 

“Wis lah, maaf-maafan ae. Ngalah siji!”

 

“Gah!” jawab Agni cepat.

 

“Yo wegah no Ik! Lapo aku kon njaluk ngapura karo cah petakilan koyo ngene. Mesakke aku nek sesuk de’e kudu tuku helm anyar …”

 

“Maksutmu ki yaopo!”

Cakka Agni Cuma ketawa, konyol gila kalo ini mah!

Video berganti, menjadi saat Cakka menggoda bu Dina.

 

“Ibu makin cantik deh. Makin buat saya klepek-klepek deh” gombal Cakka. Anak itu mulai genitnya. Agni Cuma diem. Dia tau, ada maksut tertentu Cakka ngomong kayak gitu.

 

“Diem kamu! Kerjakan soal” kata bu Dina dingin

 

“Tapi saya nggak bisa fokus tuh bu. Fikiran saya isinya Cuma nama ibu. Dina Ranty Maria. Nama yang indah, se indah orangnya” Cakka semakin gencar menggoda. Bu Dina udah nahan marah. Nih kalo bukan muridnya udah di timpuk kali.

 

“Kau… bagaikan pelangi. Menghiasi langit selepas hujan… dan juga menghiasi hatiku yang mendung…”

Wajah bu Dina merah padam, menahan malu. Cakka Cuma natap bu Dina dengan tatapan –Maafin – saya – ya – bu – khilaf – Anak – anak kelas lain cekikikan gara-gara liat video ini.

Video selesai. Dan berganti menjadi sebuah slide show foto-foto mereka satu tahun terakhir, dengan backsound Sahabat Sejatiku – Sheila On 7

“Hmm.. Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengulur waktu. Saya Cuma ingin mengucapkan Thanks to XII IPA 2 family. Kalian  sangat berarti buat gue, gue gabakal ngerti apa arti dari keluarga, sahabat, tanpa kalian. Gue makasih sebesar-besarnya sama kalian, kalian mau nerima gue sebagai Ashilla Zahrantiara yang cerewet, bawel, kepo, lebay, dan segalanya. You guys are the best! I’ve ever had! Thankyou so so muuuccchhh!” Shilla turun dari mimbar.

Semuanya pada tepuk tangan mengiringi langkah Shilla.

“Lo sukses Shill!”

***

Dunia putih abu-abu mereka baru saja selesai. Namun, begitu banyak kenangan yang mereka simpan dalam kapasitas memori . kenangan manis, pahitnya cinta dan persahabatan kembali terputar dalam benak. Benar kata orang, masa putih abu-abu itu memang paling mengasyikkan , paling seru dan paling berbekas.

Ini cerita dari seorang Ashilla Zahrantiara , Cakka Nuraga , Alvin Jonathan , Gabriel Stevent , Sivia Azizah , Alyssa Saufika , Mario Stevano , Agni Tri Nubuwati dan teman-teman lainnya.

Bagaimana kisah kalian ? :)

***

Halooo! Terimakasih udah mau baca shortFF gue  , ini emang gamasuk akal dan masih amatir. masih mengada-ada , dan nggak sesempurna SoL dan LC . Tapi ini murni karya gue guys :)

Comment please..

Sincerely

@Kinanthi99

XII IPA 2 (Chapter 1)

Hallo , balik lagi sama gue, si penulis amatir. disini gue mau ceritain kehidupan CRAG ples SISA dan kawan-kawan di kelas. mangkanya gue kasih judul  XII IPA 2. Ini mungkin cerita agak gimana gitu ya-_- typo bertebaran dimana-mana, gue males ngedit :p. capslock juga ganyante, pokoknya mohon kritikannya ya!

***

XII IPA 2. Warga SMA Citra Bangsa mengenal kelas ini dengan sebutan kelas paling “Wah”. Bukan. Bukan karena ada AC dan semacamnya. Kelas ini justru hanya memakai dua kipas angin. Lihat aja, siapa saja yang menghuninya;

Cakka :

Si cowok tengil, bebel, dan playboy kelas kakap, yang nekat masuk jurusan kelas IPA. Cakka, biang rusuhnya kelas IPA 2. Suka ngejailin guru jika anak ini udah bosen banget. Biasanya, guru yang sering jadi sasaran bu Dina. Guru muda, berusia 27 tahun, mengajar Kimia. Iya, Cakka benci Kimia. Mangkanya dia senang menggoda guru satu ini, sampai naik darah. Jika kelas  kosong sekian jam, langsung Cakka mengambil gitarnya, dan bernyanyi. Bernyanyi yang –hampir- membuat budek anak satu kelas. Atau, membeli banyak keripik dan kacang, serta minumnya untuk dimakan bareng teman satu kelasnya. Walau begitu, cowok ini famous di sekolah.

Rio :

Sohibnya si Cakka. Sifatnya sebelas-duabelas kayak Cakka. Bedanya, kalau Cakka urat malunya udah putus – di depan public sekolah, jaim banget – dia masih punya malu. Gila aja, masa goyang itik di depan kelas? Setres kan? Mana nyanyinya dangdut pula. Rio ini punya cewek, Ify. Udah dua taun dia. Dia kenal Cakka, dari SMP kelas tiga. Tapi, waktu itu nggak terlalu kenal banget. Cuma say “hello” doang. Dan akhirnya, mereka di ketemuin lagi di SMA ini. Tiga tahun, sekelas terus. Pintar di bidang akademik maupun non akademik.

Alvin :

Sohib kentalnya si Rio, dan juga Cakka. Tapi paling deket sama Rio. Temenan udah seumur hidup mereka. 17 tahun. Lahir di Jakarta, rumah sebelahan, SD-SMA sama, satu kelas, ples sebangku. Alvin ini bisa dibilang paling ‘waras’ diantara mereka berdua. Alvin ini kalau sama orang baru, – apalagi cewek – bakal dingin, dan sadisnya minta ampun. Tapi, kalo udah kenal baik, asik kok anaknya. Tapi ya, emang dasarnya aja sifatnya cuek bebek. Hobi tidur, kalo nggak ada pelajaran ya tidur. Ada cewek lagi yang dia taksir, temen sekelasnya juga. Paling suka olahraga, terutama futsal.

Gabriel :

Paling dewasa, murah senyum, dan ramah. Untuk urusan gila-gilaan , Cakka paling seneng sama Gabriel. Soalnya, Cuma dia yang paling klop untuk ngegila di kelas. Sivia. Cewek yang udah ngisi hatinya selama satu tahun. Paling benci pelajaran Matematika. Jago main alat musik. Kalo di depan hal layak, jaim setengah mati, tapi tetep senyum.

Daud :

Cowok berdarah betawi-batak. Kulitnya hitam legam. Cowok ini, juga sama gilanya kayak Cakka. Kalo ngomong suka ceplas-ceplos. Mangkanya, kalo curhat sama dia, dijamin. Di jamin abis lo lo pada curhat, curhatan lo langsung nyebar sepenjuru kelas. Yang jadi korbannya Zevana. Cewek di XII IPA 2 yang suaranya paling ngebas. Abis Zevana curhat, nggak lama Daud berkoar-koar tentang curhatan Zevana tadi.

Ashilla :

Shilla singkatnya. Cewek paling cerewet disini. Paling up to date banget soal urusan fashion. Hobinya mantengin layar iPhonenya. Kadang juga foto-foto. Sampe di lokernya, ada Instax yang sengaja ditinggal ples papernya. Ngefans banget sama Justin Bieber. Paling bego diurusan Fisika dkk. Tapi nekat buat masuk jurusan IPA, buat ngambil jurusan dokter pas kuliah. Tiap hari bawa kamera digitalnya di sekolah. Sampe chargernya dibawa juga!

Alyssa:

Ify. Ceweknya Rio. Dulu benci setengah mati sama cowok itu, tapi semenjak naik kelas dua. Perasaanya berubah. Paling kalem di kelas. Tapi kalo gilanya udah kumat ya, gila juga. Hobi main piano.

Sivia:

Cewek yang paling nyablak disini. Yang paling jujur. Kalo dibilang nggak suka ya, tetep nggak suka. Paling nggak suka di paksa. Paling klop sama Shilla. Sama-sama narsis! Paling aktif juga. Suka ikutan anak cowok nge band, atau Agni main basket, kadang juga cheers.

Agni:

Paling tomboy diantara mereka ber empat. Hobi main basket sama gitar. Asli jawa abis! Tapi sama sekali nggak ada lemah lembutnya. Kalo dibilang orang jawa, bukan orang jawa asli deh! Agak ‘ilfeel’ sama Cakka. Tapi fine aja lah.

Dan masih banyak lagi anak-anak XII IPA 2 lainnya. Kelas ini emang unik!

***

“YES! KIMIA KOSONG DUA JAM! FISIKA JUGA IKUTAAANN!!!” Teriak Rizky. Cowok ini emang paling update banget kalo soal jam kosong gini.

Cakka langsung senyum-senyum penuh arti. Langsung saja anak itu naik keatas meja guru, mulai memprovokasi anak kelas buat nge gila.

“HOIIII” Teriak Cakka. Anak-anak langsung ngeliat kearah Cakka.

“CAKKA BIEBER IN HERE YEAAAHH! WUHUUU ROCK AND ROLL YEAAAAHHHHHH” Teriak Cakka menirukan gaya vokalis Gun’s ‘N Roses.

“Cakka Bieber. Cakka Bleber gue percayaa!” celetuk Agni, cewek itu lagi ngedribel bola basket yang dibawa dari rumah.

“Heh! Cewek jadi-jadian. Diem aja deh lo! Padahal dari hati lo yang paling dalem. Lo ngakuin kan kalo Justin Bieber itu kembaran gue!” bela Cakka.

“Kka. Mau sampe matanya si Alvin belo, muka lo jauh banget sama JB!” dukung Shilla. Alvin yang lagi diem langsung melengos. Emang, di kelas dia. Satu-satunya cowok yang kulitya putih, dan sipit. Chinese.

“Apa lo bawa – bawa nama gue!”

“Dih. Salah sendiri mata kok segaris kayak gitu. Gedein dikit!” ujar Shilla lalu menjulingkan mata Alvin. refleks Alvin menepuk tangan gadis itu. “Heh! Heh! Bilang aja lo iri sama mata gue!”

“Dih, kagak!”

“MAS MBAK YANG DI POJOK ITU. JANGAN PACARAN TERUS YAAA” Goda Gabriel. Anak itu mulai gilanya.

“Asem lau Yel!” keluh Alvin.

“ADA YANG MAU REQUEST LAGUUU?!” Mulai deh, si Cakka. Mau bikin konser dadakan.

“PACARKU! PACARKUUU!!” sahut Nyopon. Rambutnya mulai tumbuh satu, dan tegak banget. Mirip si encup.

“JANGAN! GOTIX GOTIX! HOT BANGET EYAAAKKK” usul Daud.

“HIDUP TANPA CINTA BAGAI TAMAN TAK BERBUNGA. HAI BEGITULAH KATA PARA PUJANGGAAA. SEEEERRRR” Cakka mulai sintingnya, sambil joget joget ala soneta band.

“Aduh, mimpi apa gue bisa dapet kelas iniiiiii” keluh Zevana sambil menepuk keningnya,

“Gue malah bangga dong bisa sekelas sama mereka-mereka!” ucap Keke. Keke ini sangat membanggakan kelasnya. Cewek ini saking bangganya, sampe nulis di Bio FB, Twitter, Blog sampe social network lainnya.

Zevana Cuma mencibir.

Cakka turun dari meja dan menghampiri Gabriel. “Yel! Satu jam saja!” suruhnya.

“SATU JAM SAJAAAAA….” Dua cowok keren itu mulai goyang itik. Dengan hebohnya Cakka, sampe pantatnya di tonjolin terus. Sambil pasang muka innocent .

“HUAHAHA! YEL. KKA! ASLI TOLOL BANGET LO BERDUA” tawa Rio seketika meledak.

“Yang penting gue keren!” jawab Gabriel.

“Vi! Cowok lo sinting banget!” lapor Alvin.

“Biarin!”

“PACARKU MEMANG DEKAT LIMA LANGKAH DARI RUMAH. TAK PERLU KIRIM SURAT SMS JUGA NGGAK USAAAHHH” Daud nyanyi-nyanyi gaje ples goyang Ngebor ala Inul Daratista.

“DUH ADUH MEMANG ASEEEKKK PUNYA PACAR TETANGGA~ TIAP HARI BERDUAAN NGGAK USAH BUANG DUIIITTTTT” Gabriel nyambung, disusul goyang gergajinya mbak DP.

“TAK ADA MALAM MINGGUAAAANN MALAM APAPUN SAMA SEEERRR GOYANG BAAAANGGGGG” Cakka tambah heboh goyangannya.

“GANTI GANTIII!!”

“IWAK PEYEEK IWAK PEYEK NASI JAGUUUUNGGG SAMPAI TUWEK SAMPE KAKEK CAKKA TETEP GANTEEENGG” Nyanyi Cakka.

“WOOOOO!!” Alvin melempar botol isotonik yang sudah kosong kearah Cakka,

CTAK.

Botol itu tepat mengenai hidung Cakka.

“Monyong! Hidung gue sipit!” hardik Cakka.

Shilla asik ngerekam kelasnya pake kamera digitalnya. Jarang-jarang kelasnya kayak gini.

“SEKUNTUM MAWAR MERAAAHH~ YANG KUBERIKAN KEPADA VIAAA” nyanyi Gabriel sambil menyodorkan se pot mawar merah yang baru keluar kuncupnya. Sivia melotot.

“Anjrit! Mawar  apaan nih? kuncupnya doang” sahut Dayat.

“Bodo! Titlenya kan mawar merah! Sabodo amat mau mekar kek, mau kuncup. Yang penting hati gue punya Sivia Azizah seorang”

“Gombal gumbal dasaarr”

Shilla yang melihat kejadian itu, langsung mengarahkan kameranya dan mengambil gambar. Setelah melihat hasilnya, cewek itu mesem-mesem penuh arti. Guru-guru dan karyawan sekolah yang lewat depan kelas ini Cuma geleng-geleng kepala. Udah gabisa lagi ngasih tau kelas ini kalo rame ngeganggu kelas lain yang lagi pada belajar. Sampe Pak Wayan, guru yang terkenal disiplinnya udah gabisa nenangin kelas ini.

“DISINI KAU DAN AKUUU TERBIASA BERSAMAAA~” Septian mulai melankolisnya. Preman kok melankolis sih?!

“Woi Yan! Kagak cocok lo nyanyi begituan! Masa preman galau! HAHAHAHA” kontan, anak kelas yang mendengar ledekan Aren langsung pada ngakak. Diam-diam, mereka semua menyetuji ucapan Aren. Preman kok nyanyinya kayak gitu?!!!

“KEDATANGANMU KUTUNGGU TLAH LAMAA~” Cakka mendendangkan lagu nya Ridho Rhoma. Cowok yang ngakunya mirip JB, tapi seneng banget sama Ridho Rhoma. Bahkan, Cakka punya tekad buat numbuhin bulu di dadanya biar samaan kayak bang Ridho. Apa nggak gila tuh?

JDAK

Agni melempar bola basketnya kearah badan Cakka, dan tepat mengenai punggung cowok itu. Cakka yang di serang tiba-tiba, langsung ambruk,

“Monyet! BADAN GUE AGNIIIIIIIIII” ringis Cakka sambil pegang pinggangnya yang sakit.

“Bodo!” Agni juga nggak tau kenapa tiba-tiba dia ngelempar bola ke Cakka. Iseng sih tepatnya.

“tanggung jawab lo! Pinggang gue sakit begooo!” Cakka berdiri dibantu Rio.

“Ogaaah” tolak Agni.

“Harus!”

“Kagaaakk!”

“Iya!”

“Emoh!”

“Kuduuu!”

“Wegah! Mbahmu! Lapo kowe ngekon aku! Yo salahmu ngopo ndadak nyanyi nyanyi barang. Brebegi kuping!” logat Jawanya Agni keluar.

Anak-anak kelas yang notabenenya anak Jabodetabek asli – kecuali Alvin yang emang orang Malang – Cuma bisa liat debatan Jawa mereka tanpa mengetahui arti dari ucapan tersebut.

“Sewot tenan kowe cah! Sing nyanyi kan aku, lapo sing ribet kowe!” balas Cakka.

“Mas, mbak, nek meh kelai ojo ning kene! Kae lapangan sepi!” celoteh Alvin dengan logat Malangnya yang khas.

“Diancjuk! Kowe ngangel-angeli ae to Vin!”

“ben!”

“WOIII UDAH YAAA! JANGAN BIKIN KITA KAYAK ORANG BEGO YANG GATAU APA-APA” tengah Debo. Anak ini bener-bener gatau apa-apa bahasa Jawa.

“AYO KANTIIINNNN!!” teriak Daud lantang. Perut Daud emang kayak karet. Baru di isi beberapa jam udah laper aja. Tapi badannya tetep sebiting.

“LET’S GOOOOO!!!”

Langsung saja, kantin SMA Citra Bangsa penuh dengan anak-anak IPA 2. Nggak heran deh, gorengan dan segala yang terhidang dimeja langsung ludes begitu tersentuh tangan-tangan orang yang udah di kasih makan, tapi tetep aja rakus.

Penjual kantin langsung pada melongo. Dagangannya nyaris abis! Gorengan yang masih fresh diangkat dari penggorengan, habis di tangan mereka juga. Hah!

***

“Temen-temen! Maen ToD YOK!” ajak Gabriel. Cowok ini kalo udah urusan ToD , dia nomor satu.

“YOK!”

Meja tempat Debo – Septian menjadi tempat mereka memainkan ToD. Dayat mulai memutarkan botolnya. Dan tepat berhenti di tempat….. Alvin.

“ToD?” tanya Dayat. Alvin diam. Memikirkan apa yang harus ia pilih.

“Dare.”

“Lo naik ke atas meja guru, nyanyi plus joget joget iwak peyek sama gotix!” ujar Cakka. Cakka kalo ngasih tantangan Dare nggak nanggung-nanggung deh! Sinting abis. Alvin kontan melotot. Anak-anak yang denger perintah Cakka nahan ketawa.

ALVIN JONATHAN! LO BEGOOOO!

 

“Kka! Mau taroh dimana reputasi gue nantiiiii” kata Alvin frustasi. Kesan pangeran es yang melekat pada dirinya akan lenyap seketika.

“Taro di ketek lo yang putih noh!” balas Cakka sewot. “Lo kan udah pilih Dare Koko Alviiiinnnn. LAKUIN!” Pasrah, Alvin naik ke atas meja guru.

“Lo Lo pada. Gausah ngerekam atau sejenisnya! Kalo ketahuan abis lo!” ancam Alvin.

“ALVIN! ALVIN! ALVIN! ALVIN!” satu kelas menyoraki nama ‘Alvin’ . Nanggung, udah kepalang basah, nyebur aja sekalian.

“IWAK PEYEK IWAK PEYEK……” Alvin mulai nyanyi Iwak Peyeng dengan jogetan Gotix ala Alvin (kasian….)

Tawa satu kelas langsung meledak. Ada yang sampe mukulin meja, tiduran di lantai sambil pukul lantai, megang perut bahkan nangis! Alvin jadi kayak orang bego di depan. Shilla langsung mengarahkan kameranya ke arah Alvin walaupun Alvin sudah melarang keras mengambil gambar atau videonya. Kulit badak! Tapi untung aja, Alvin nggak nyadar :p

“Udah Vin! Udah! Kesian gue liat muka lo” kata Rio sambil nahan ketawa.

Alvin turun dari meja dengan muka di tekuk. Asli! Cakkacakkandut nyebelin abis! Awas Lo!

“HUAHAHAHA” tawa Cakka tambah meledak ketika melihat wajah Alvin.

“Apa lo!” sinis Alvin terus duduk di sebelah Gabriel.

“Yel! Puter botolnya!” suruh Dayat. Anak ini udah nggak sabar rupanya… dan botol itu berhenti tepat di tempat Daud.

“ToD?” tanya Rio

“Dare!” jawab Daud mantap.

“Lo ngomong pake bahasa Inggris. Hi, My name is Daud Waas di depan kelas!” suruh Alvin. Balas dendam rupanya…

Daud ini emang paling bebel di pelajaran Inggris. Nilai tertingginya 78…….. paling rendah.. wah nggak usah ditanya deh.

“Hi, my name is Daud Waas” (H-i mi nime iz Daud Waas) Kontan anak-anak yang denger langsung pada ngakak. Asli, Daud Inggrisnya udah keterlaluan!

Sementara yang cowok asik main ToD, yang cewek asik foto-foto , sama ngerumpi.

“Kertas polaroid lo tinggal dua nih Shill! Bawa Reffillnya kagak lo?!” seru Ify dari tempat loker punya Shilla. Shilla membuka tasnya.

“Bawa! Itu siniin aja Fy!” jawab Shilla sambil ngambil Reffill kertas filmnya.

Ify mengambil kotak berisikan kertas film, setelah menutup kembali loker Shilla, Ify kembali ke tempat duduknya.

“Nih.”

***

24 Oktober 2010 , 09.00 AM.

RIO LAGI ULANG TAHUN!

Mention twitter , wall facebook , banjir ucapan ‘Happy Birthday’ diikuti wish-wish ‘ajaib’ mereka. Ada yang bilang ‘kalo lo putus sama Ify, gue siap kok jadi penggantinya’ apa nggak gila tuh?! Jangan sampe deh… batin Rio. Dari pagi perasaannya udah nggak enak banget, tahun lalu, dia disuruh ngerayu bu Dina. Guru Kimia mereka dari jaman kelas XI . abis itu masih disuruh makan bakwan satu, cabenya lima, minum Cuma air putih aja, nggak dingin pulak! Sebagai penutupnya, di guyur pake apa aja! Mulai dari ampas kopi, teh, air selokan, tepung, telur busuk, cake ulang tahunnya. Wih! Parah banget!

Sampe di kelas, dia agak was-was. Biasanya anak-anak udah pada stand by di tempat masing-masing buat ngerjain dia, tapi kok aneh…. ini pada nyante-nyante aja. Nggak ada bau-bau hal yang mencurigakan……

Rio duduk di sebelah Alvin. Shilla masih asik sama kameranya. Ajib! Pagi-pagi udah gaya aja….. agni lagi nyalin PR , Sivia lagi mainin hapenya, Ify sibuk sama novel yang baru dia beli kemarin. Cakka,Gabriel, Alvin dan sejumlah anak cowok lagi pada main Pancasila Lima Dasar. Yang kalah, di geplak..

JAM KETIGA! Bu Dina nggak ngisi, kabarnya eh kabarnya, doi takut kalo di kerjain lagi sama Alvin cs. Cukup tahun lalu deh! Galagi lagi… dari awal istirahat tadi, Ketiga anak itu udah ilang gatau kemana, di samperin di kantin nggak ada, di samperin di base-camp juga nggak ada, balik ke kelas juga nggak ada. Setan! Perasaannya was-was, siaga satu. Rio tambah tegang ketika melihat ketiga sobatnya muncul dari ambang pintu kelas, diiringi seringai ‘tengil’ ketiganya. Alvin menghampiri Rio diikuti Gabriel. Cakka masih stay di depan pintu , bersender pada tembok dan –sepertinya- menyembunyikan sesuatu di belakang badannya.

“Yo! lo belom makan kan? Kantin yok!” ajak Gabriel, sambil menepuk pelan pundak Rio. Cowok itu mengerling jail ke empat cewek yang asik liatin. Cewek itu mesem saja. Lalu melanjutkan aktifitasnya.

“Yoa Yo! dari tadi lo diem aja..”

Rio makin was-was. Tingkah aneh sahabatnya ini, udah jelas-jelas kalo ada apa-apa.

“Lo pada kenapa sih?” tanya Rio, lagak orang bego .

“Kita? Nggak apa-apa kok ya. Perasaan gini-gini aja” jawab Alvin.

“Bukan nggak apa-apa , tapi apa-apa”

“Kantin yok! Lama lu!” Gabriel menyeret Rio menuju kantin,

“EH WOI! WOI!”

***

“Lo duduk diem, gue pesenin deh.” Kali ini, Cakka nawarin diri.

“apaan sih?!” gerutu Rio. Selera makannya lenyap terbawa angin…

“udah lo duduk diem yang manis, biar Cakka Bieber yang pesenin lo makan…” Cakka langsung melesat ke tempat ibu-ibu kantin .

Mendengar ‘Cakka Bieber’ nafsu makan Rio benar-benar hilang! Tak lama, Cakka kembali dengan sepiring nasi goreng super jumbo dan menaruhnya di hadapan Rio. Rio melotot. Gila! Ini yang mau ngabisin siapaaa?!

“Makan Yo! biar badan lo kagak tulang doang!” tegur Alvin, anak itu lagi main-mainin sedotan membentuknya menjadi bunga, dan membuangnya sembarangan.

“Ini banyak banget bego!” geram Rio sambil ngambil sendok ples Garpu.

“Udasih, tar gue yang bayar deh!” kata Gabriel. Rio ikut aja , kan lumayan irit uang saku. Sejauh ini, belum satupun teman – temannya mengucapkan happy birthday. Ini pada lupa apa yaaa?!!!!

Rio langsung megap-megap ketika menyuapkan satu sendok nasi tersebut. EDAAANNN!!!! Ini lomboknya berapeee?! Buset dah!

“WOI AIR WOI AIIIRRR!!!!” Rio teriak-teriak, tangannya gerayangan buat ngambil sesuatu yang bisa diminum.

“Itu cuka! Lo mau mati?!” seru Alvin. rio langsung kembaliin lagi cukanya,

“Oi Cakk! Lo kagak pesen minum ya?!” ujar Gabriel semacam kode. Masa bodo dah! Batin Rio.

“Oh iya gue lupa… gue pesenin dulu!”

Sepeninggal Cakka, Rio masih aja megap-megap, gila coy. Ini pedesnya kaya di tampar 100 kali dah!

Nggak lama, Cakka balik dengan sebuah jus berwarna kuning…

“Mario…” goda teman-temannya.

“Jus Durian spesial buat Mario Stevano..” kata Cakka jail sambil menyodorkan jus di tangannya.

“MAMA! OGAAAHH!!”

Rio langsung loncat dari bangku dan berlari sekuat tenaga, sabodo teuing deh dandanannya rusak, yang penting KABUUUURRR!!!!!

“KEJAR VIN. YEL!”

Terjadilah aksi saling kejar antara Rio-Gabriel-Alvin. Prinsip Rio; lari aja terus! Sambil nengok belakang, jatuh urusan akhir, yang penting jatuh ke bawah. Yang penting SELAMETIN DIRI!

“OI AWAS OIIIII” teriak Rio ketika melihat segerombolan anak cewek kelas sepuluh. Otomatis, anak itu langsung pada minggir.

“AWAAAASSS!!!!!” teriak Rio lagi pas liat di depan anak-anak kelas sebelas pada ngumpul di depan kelas.

Mereka masih kejar-kejaran sehingga menjadi objek pandang seantero sekolah. Ini anak kenapa sih? MKKB yea…

Sampe di depan kelasnya – kelas nya di lantai tiga paling ujung, sedangkan kantinnya ada di lantai satu paling ujung juga. –

BRUK JEDUK DUAAARRR

Rio kesandung sepatunya sendiri, dan jatuh tepat di depan pintu kelas, jidatnya kebentur ujung pintu sehingga sedikit membiru.

“Mau kemana lo..” goda Alvin setelah sampai di TKP. Mengunci kedua tangan Rio di belakang.

“Ogah Vin OGAAAAHHH” seru Rio, meronta-ronta. Anak kelas yang liat Cuma diem, mau ketawa juga nggak sopan, mau peduli juga nggak bisa. Setan!

“CAKKAAA” teriak Gabriel dari samping Alvin. ngos-ngosan juga kejar-kejaran keliling sekolah. Seragam ketiga anak itu udah nggak bentuk. Amburadul . dasi longgar, bajunya keluar, kaos putih polos keliatan, rambut juga udah nggak oke.

Cakka datang dari arah tangga, berjalan dengan santai, di tangannya terdapat satu gelas jus Duren. Penasaran, anak-anak kelas ples kelas lain yang lagi kosong pada keluar. Alvin membalikkan tubuh Rio disaat Cakka berjongkok di sebelahnya.

“Lo harus minum ini Mario..” goda Cakka sesaat menyodorkan gelas jus itu. Rio menutup mulutnya rapat-rapat. Gabriel langsung bertindak, di cekalnya kedua pipi Rio. Membuka secara paksa mulutnya.

“GABRIEL OI GABRIEEELL” rintih Rio.

Cakka langsung meminumkan jus tersebut ke Rio. Ify jadi prihatin. Mereka ini, keterlaluan sih. Eh tapi lucuk juga….

Setelah puas meminumkan jus itu, ketiga kawan tersebut melepaskan Rio.

“HEPI BERTDAI MARIOOOO!” teriak Alvin, Cakka, Gabriel bersamaan.

Rio tak menanggapi ucapan tersebut, perutnya mual, langsung saja anak itu berlari ke tempat wastafel yang memang pihak sekolah menyediakan fasilitas wastafel. Ify menyusul Rio, menghiraukan ketiga temannya itu yang asik melihat video tersebut di kamera Shilla.

“Keluarin aja semuanya Yo, biar lega” suruh Ify sambil memijat pelan tengkuk Rio.

“Gue nggak abis pikir… mereka… HOEEEKKK”

“Gausah ngomong dulu deh lo, keluarin aja semuanya dulu . biar perut lo enakan”

Rio nurut aja, perutnya emang gabisa nerima buah berduri itu masuk wilayahnya, mangkanya, Rio paling anti sama yang namanya ‘duren’

Setelah selesai membersihkan sisa muntahannya ples mencuci mulut, keduanya duduk di depan loker anak kelas bahasa.

“Gue nggak abis pikir aja, mereka tega banget gilak. Udah tau efeknya segini, masih aja nekat. Gila. Gila. Gila!” umpat Rio. Ify hanya mampu tersenyum.

“Tapi setidaknya, mereka gabunuh elo ya..”

“iyasih, tapi tetep aja! Durennya juga.. iyuuuhhhh”

“Minum dulu deh, biar tambah enakan.” Ify menyodorkan teh hangat yang baru saja dibuatkan office boy sekolah mereka,

Rio meminumnya, sebentar, sebentar, aaahhh perutnya enak sekali, berbeda dengan rasa tadi. Benar-benar mual!

Happy Birthday ya abang Iyoooo. Longlife, tetep sama gue, sampe kapanpun. Tetep jadi Marionya Alyssa ya…” ujar Ify. Rio tersenyum. Diraihnya cewek mungil itu ke pelukannya, menicum puncak kepalanya.

Thankyou my dear..” bisik Rio. Ify meringis pelan, diuraikannya pelukan Rio, kemudian mengambil sesuatu dari loker milik kakaknya – dulu –

“Buat lo, ga special sih,  tapi menurut gue ini indah banget.”

“Boleh gue buka?”

Ify mengangguk. Rio segera membuka hadiahnya.

Sebuah frame foto agak besar berisikan rangkaian foto polaroid mereka membentuk huruf MA .

“Jujur, ini hadiah yang oke punya. Better than Lamborghini urus gue, cagiva gue, semuanya. it’s beautiful..” puji Rio. Ify hanya mampu tersenyum.

MNG CJR AT JOGJA!!!!!

MNG COBOY JUNIOR AT JOGJA!!!

 

 

Di postingan kali ini, gue mau cerita tentang MnG Coboy Jr di Jogja tanggal 4 November .

 

Rencana MnG sebenernya udah ada semenjak bulan Mei. Disitu, gue jadi admin di acc @Comate_Jogja . Diajakin sama kak Angel. Waktu gue on, di tl banyak yang nge-promosiin MnG CJR di kota mereka. Disitu gue mulai mikir. Kalo kota lain udah pada MnG, Jogja kapan? Yaudah, disitu gue mulai bilang sama kak Angel. Waktu gue bilang kayak gitu, kak Angel langsung setuju. Dan mulai nyari peserta buat MnG. Ngalor-ngidul nyari peserta. Gue juga nyari dari temen sekolah gue. Gue mulai nanya-nanyain pada mau ikut nggak? Gue bilang harga tiketnya sekian, mereka nggak jadi ikut. Gapunya duit katanya. Nggak lama, peserta baru kekumpul kurang lebih 30 orang. Gue mulai pesimis, takut nggak jadi MnGnya. Setelah kekumpul, kak Angel minta kepastian tanggal dan bulan buat MnG. Habis itu survei cari tempat buat tempat MnG. Tempat pertama, di Hotel Puri Artha. Dan rencana bakal ada MnG di bulan Oktober kalo nggak salah. Disitu, gue mulai ada harapan sedikit. Gue mulai promosiin di acc twitter pribadi. Setelah berapa lama, gue tanya kak Angel. Tempat dan bulan yang fix itu kapan & dimana . Katanya masih rahasia. Okelah, gue panitia tapi gatau apa-apa (?). MnG diundur jadi bulan November di hari keempat. H-14 kalo nggak salah, tiket udah sold out semua. Karena kasihan sama Comate, yaudah tiketnya di tambahin. Dan nggak sampe tiga hari udah sold out. AMAZING!!!

Mendekati hari H dan udah nggak jual tiket lagi, panitia nge-konfirmasi di mana tempat MnG. Tempatnya itu di gedung Auditorium kampus MMTC di Jalan Magelang. HARI H! Panitia standby di venue jam 11. Waktu gue sampe tempatnya, baru ada beberapa panitia lain, yang lainnya masih sama CJR. Kayak kak Angel, kak Risma, dll. Honestly, seneng, gugup, tegang, semuanya campur aduk! Sekitar jam stengah 1 an kalo nggak salah, panitia briefieng sebentar, dan bagiin ID Card panitia. Disitu kak Shinta bilang kalo CJR masih pada di villa, bmasih shooting. Dan masih harus ke alun-alun kidul buat shooting dan main games disana. Padahal acara jam satu. Dan yang nggak diinginin, hujan! Panitia yang jaga langsung nyuruh masuk peserta MnG masuk. Biar nggak kehujanan. Nggak lama kemudian, CJR dateng. Comate yang nggak dapet tiket langsung pada ngerubungin CJR. Ada yang sampe nangis-nangis juga. Kasian sih… sempet ada kendala juga. Bang Kiki nge drop. Langsung di bawa ke RS. Bethesda bareng beberapa panitia. Akhirnya, CJR tampil sekitar jam stengah tiga. Pertama nyanyi Terhebat. Jujur aja, mau nangis rasanya. Inilah hasil dari bulan Mei! Gue nggak sempet liat CJR nyanyi lagi. Cuma dua kali liat mereka nyanyi live, dan abis itu jaga stand merchandise. Ada yang liat gue mungkin ? :p Setelah semua merchandise abis, gue sama temen kak Angel langsung masuk ke panggungnya. Dan liat di pojokan bang Dery – yang waktu itu nge MC – lagi di kerubungin. Gue langsung lari kesana. Kapan lagi coba ? heheh :b .

Gue mulai minta tanda tangan dan foto bareng. Abis itu, langsung nanya kak Angel dimana CJR. Gue langsung di tarik ke belakang panggung, dan liat CJR lagi liputan. Abis liputan, gue langsung nyerbu bang Kiki buat minta tanda tangan, abis minta tanda tangan , nyari iqbal, minta tanda tangan ples foto bareng :b. Abis itu bastian. PARAHNYA! LUPA MINTA FOTO BARENG SAMA ALDI, KIKI, BASTIAANNN!!!! :””””( Yaaaa nggak papa lah. Yang penting udah sama iqbal._. Nggak sempet lagi fotoin mereka waktu nyanyi._.

Gitu ceritanya… gue mau nge share foto waktu MnG. Nyolong punya Oca. Hehe. OCAAA MINTA FOTONYA YAAA :B

 Image

ImageImageImageImageImageImageImageImageImage

ImageImage

 

 ImageImage

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A Thousand Years – CERPEN

Hoik balik lagi sama penulis yang gagal. Buat cerpen lagi nih, biasalaahhh flat banget. CEKIDOT

***

Shilla sedang berada di dalamnya. Iseng-iseng berhadiah, Shilla menyalakan radio, dan mencari gelombang yang sedang siaran. Tiba-tiba kegiatannya mencari gelombang terhenti. Ketika indranya menangkap intro sebuah lagu yang saat ini sedang ia gemari. Menurutnya, liriknya sangat pas dengan kondisinya sekarang. Mengingatkannya tentang seseorang…

The day we met, frozen

I held my breath

Right from the start

I knew that i found a home

For my heart …

“Nama gue Alvin Jonathan” Kata Alvin saat sedang memperkenalkan dirinya. Hari pertamanya masuk SMA Pelita.

 

Shilla menatap lekat cowok itu.

 

“Oke Alvin. Silahkan duduk di sebelah Ashilla” Shilla refleks berdiri.

 

“BU! Nggak bisa gitu dong. Saya sudah duduk dengan Pricilla. Nanti kalau dia duduk di sebelah saya. Pricilla mau di kemanain?” Shilla protes.

 

“Pricilla masih bisa duduk bersama Gabriel, Ashilla. Ini perintah” kata bu Puji.

 

Shilla duduk kembali dan memanyunkan bibirnya. Alvin langsung duduk di sebelah Shilla.

 

“Gue bisa kok duduk bertiga sama Pricilla kalo dia dateng” kata Alvin santai. Shilla menahan napasnya. Cowok ini! Baru hari pertama aja udah kayak gini. Gimana seterusnya? MATI KAU!

 

Selang beberapa menit kemudian, terdengar derap langkah yang sedikit tergesa-gesa.

 

“Permisi , maaf saya ter-lam-bat” kata-kata Pricilla tersendat. Ketika melihat seseorang tengah asik duduk di bangkunya. SETAANNN!!

 

“Elizabeth Agatha Pricilla. Kenapa kamu terlambat hah?” kata bu Eka sinis. Pandangan Pricilla melayang ke bu Eka. Ia menelan ludah. Matilah gue!

 

“Tadi…. ban mobil saya bocor bu” Alibi Pricilla.

 

Bu Eka menatap geram Pricilla.

 

“Yasudah, kamu sudah memotong jam pelajaran saya. Silahkan kamu duduk di sebelah Gabriel. Karena bangku kamu sudah terisi oleh Alvin” ujar bu Eka kemudian berlalu. Kembali menulis sederet rumus ples contoh soal yang bikin kepala cepat kisut. Pricilla cemberut. I WANT TO KILL YOUUU!

 

Shilla menatap Pricilla, plis-lo-tolongin-gue. Pricilla menggeleng pasrah kemudian duduk di sebelah Gabriel. Sarang penyamun, HAH!

 

Beats fast

Colors and promises

How to be brave

How can i love when i’m afraid

To fall…

Shilla tersenyum pahit, ketika mengingat ini tanggal berapa sekarang. Mengingat kejadian satu tahun silam

“Shill. Gue pengen jujur sama lo” Alvin memandang kearah laut lepas.

 

“Ngomong aja”

 

“Semenjak kita akur… jujur gue nggak bisa berhenti buat mikirin elo. Tiap gue nggak bareng elo gue khawatir Shill…” kata Alvin

 

Shilla membeku. Rahangnya mengeras.

 

“T…terus?” gugup Shilla. Alvin memandang Shilla yang juga memandangnya.

 

“Gue mau… lo jadi Mrs. Sindhunata. Gue janji buat ngejaga elo Shill.. i promise” ujar Alvin. shilla menatap mata Alvin mencari kejujuran disana. Sirat matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar serius..

 

“Tapi gue takut.. kalo akhirnya gue jatuh lagi” lirih Shilla kemudian menunduk.

 

“Nggak dan nggak bakal pernah Shill. Sebisa gue ngejaga elo. Kita akan jatuh sama-sama kelak.” Kata Alvin.

 

Shilla langsung memeluk Alvin. menumpahkan tangisnya disana. Tangisan bahagia..

 

“yes… i would” bisik Shilla. Alvin tersenyum dan membelai rambut Shilla.

 

But watching you stand alone

All of my doubt

Suddenly goes away somehow

One step closer…

Shilla kembali menatap pigura foto. Terdapat foto sosok laki-laki, dan perempuan sedang tersenyum. Ah bahagia sekali mereka… Dia pernah memimpikan Alvin tengah menunggunya di depan pendeta, di bawah kanopi bunga, di saksikan oleh banyak orang, dan ciuman itu….. Ah, hanya mimpi belaka saja. Tapi, Shilla merasakan itu sangat nyata. Hingga Akhirnya…

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid

I have loved you

For a thousand years..

I love you for a thousand more..

“Shill… kalo misalnya nanti gue nggak di samping lo lagi gimana? Hanya untuk beberapa tahun. Nggak ada lagi gue yang bangunin lo, ngingetin lo kalo lo salah.. andaikan..” ujar Alvin.

 

“Gue nggak bisa Vin. Gue udah terbiasa dengan adanya elo disisi gue. Lo itu kayak pelengkap gue Vin” lirih Shilla. Alvin tersenyum.

 

“Forget it.”

 

Hati Shilla berdenyut hebat tatkala mengingat hari jadi mereka yang ke dua hancur karena penuturan Alvin…

“Dua tahun Shill. Dua tahun kita bangun kisah ini, dari kita kelas satu sampai kita lulus SMA. Kita masih awet ya. Nggak nyangka” kata Alvin. Shilla mengangguk.

 

“Tapi….” kata Alvin terputus.

 

“Tapi?” tanya Alvin heran.

 

“Gue udah keterima di Oxford Shill. Gue ngejar cita-cita gue. Gue balik 8 tahun lagi. Dan di saat gue balik nanti gue bakal ngelamar elo. I promise.”

 

“Oxford? 8 Tahun? Vin..” mata Shilla berkaca-kaca.

 

“Gue berangkat dua hari lagi Shill. Honestly, gue berat buat ninggalin Indonesia dan… Elo” Alvin menunduk. Menutupi kesedihannya.

 

Shilla langsung menangis. INILAH! INI! Maksud dari ucapan Alvin tempo hari.

 

“Tapi kenapa harus Oxford Vin? Disini kan masih ada UI” Isak Shilla.

 

“ Gue udah bilang sama orang tua gue juga La, tapi orang tua gue maksa buat daftar ke Oxford. Kalo gue nggak keterima di Oxford, gue bebas milih kuliah dimana gue mau, tapi nyatanya gue keterima disana. Gue udah maksa buat nggak kuliah di Oxford, tapi orang tua tetep maksa gue kuliah disitu. Dan kalo enggak… gue di paksa buat tunangan sama anaknya rekan bisnis papa gue La.” Jelas Alvin. Sorot matanya menyiratkan kesedihan.

 

“Gue Cuma butuh 8 tahun La, 8 tahun itu nggak akan kerasa kalo lo jalani semua ini dengan segenap hati lo” lanjut Alvin. Shilla semakin menangis. Kemudian mengangguk perlahan. Alvin tersenyum lalu merengkuh Shilla.

 

“Makasih lo udah mau ngerti gue. Makasih” bisik Alvin.

 

Kejadian itu.. sudah sembilan tahun silam. Manakah janjinya? Janji hanya delapan tahun, tapi ini sembilan tahun! Penipu!

“Katanya pergi sebentar…. ternyata lama…” Shilla menyanyikan sepotong lirik lagu.

Kemanakah Alvin? Apakah ia lupa terhadap dirinya ini? Jika iya, Ah. Betapa sakitnya hati Shilla. Menunggu ! Sembilan tahun menunggu, dan menolak puluhan cowok yang menyatakan perasaannya. Hanya satu alasan : ALVIN!

“Lo kemana… gue kangen…” lirihnya.

I’m here, Ashilla” sahut seseorang. Shilla menoleh. ALVIN!

Alvin tampak lebih dewasa daripada ia melihat sembilan tahun yang lalu. Badannya atletis, tubuh tinggi, tegap, garis wajahnya terlihat lebih tegas namun… memikat, dan sorot matanya, masih sama seperti dulu… Shilla langsung memeluk Alvin, menumpahkan segala tangisnya disana

“Jahat! Jahat! Jaahaaattt!!!!” umpatnya.

“Maaf aku ingkar janji.. aku ada urusan satu tahun ini…” Shilla menggeleng.

Alvin melepaskan pelukannya kemudian merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan sebuah kotak, lalu membukanya.

“Ashilla…” panggil Alvin. Shilla menatap Alvin.

“Mungkin ini saatnya aku bilang ke kamu… Sembilan tahun kamu menunggu, nggak akan sia-sia. Ashilla Zahrantiara… maukah kamu menjadi Mrs. Sindhunata? Menemaniku sepanjang hari, mengucapkan kata sakral di hadapan pendeta?” kata Alvin sambil menyodorkan sebuah cincin kehadapan Shilla.

“Karena… hatiku sudah menemukan pelabuhan terakhirnya” Shilla menutup mulutnya, menangis lagi. Penantiannya tidak sia-sia!

Dengan cepat Shilla mengangguk. Alvin tersenyum kemudian memasangkan cincin itu ke jari Shilla.

“Thankyou for everything….”

-TAMAT-

***

EPILOG.

Pintu altar terbuka lebar, semua hadirin menatap kearah mempelai wanita yang sedang berjalan anggun dengan gaun panjangnya, di tangan kanannya terdapat sebuket bunga.

Shilla dapat melihat Alvin tengah berdiri menunggunya di depan sang pendeta. Sesampainya di depan pendeta, ayah Shilla segera menyerahkan Shilla ke Alvin. Lalu mereka mengucapkan janji sehidup semati di depan pendeta, di saksikan oleh banyak tamu undangan. Setelah membacakan beberapa doa, peneta menyuruh mereka berdua ke depan untuk menunjukkan rasa sayang, cinta mereka.

Ya, penantiannya tidak sia-sia selama ini. Penantiannya selama sembilan tahun membuahkan hasil. Ending yang membahagiakan, kan?

I have died everyday waiting for you

Darling don’t be afraid

I have loved you

For a thousand years

I love you for a thousand more….

STILL WAITING – Alshill

HALLOOOO Hehe. Ini cerpen pertama aku yang masih amatir, banyak typo, cerita nggak jelas, dan pasti chrispy…. OK Langsung aja. CIAOOOOO!!!

***

 

“Maaf aku udah nyakitin kamu terlalu jauh, maaf udah buat kamu kesiksa beberapa bulan ini, maaf udah bikin kamu nangis. Aku emang nggak pantes buat kamu, mungkin emang sekarang saatnya aku ngelepas kamu. Aku harap kamu dapet yang better dari pada aku. Yang bisa ngertiin kamu, ngejaga kamu, dan bikin kamu senyum terus. Good bye. Terimakasih atas empat bulan yang menyenangkan.”

 

“Maaf Kka, maaf” kata-kata maaf sedari tadi meluncur dari bibir gadis ini.

“Maaf…”

“Kamu nggak usah minta maaf Shill” sahut seseorang . Cakka . Shilla menoleh, seketika rahangnya mengeras.

Cakka itu duduk di dekat Shilla kemudian senyumnya mengembang. Ah, tidak! Bukan senyum tiga jari ataupun sebagainya, tetapi senyum kepedihan.

“Lucu aja, satu tahun aku nguber-nguber kamu, seharusnya kata putus nggak ada di dalam otakku” ujar Cakka itu.

“Cakka , maaf” lirih Shilla. Air matanya mengalir diiringi tatapan sendu Cakka itu.

“Nggak ada yang perlu di sesali Shill. Semuanya udah terjadi kan?” kata Cakka

Shilla masih tetap diam. Berusaha agar airmatanya tidak semakin keluar.

“Hey, udah dong jangan nangis. Jelek ah kalo kayak gitu” hibur Cakka lalu menghapus jejak-jejak airmata yang mulai mengering. Cakka menepuk pelan puncak kepala Shilla.

“Senyum dong” Pinta Cakka sambil menatap Shilla. Perlahan lahan, Shilla tersenyum.

“Nah gitu dong”

“Kka” panggil Shilla

“Iya?”

“Makasih” ujar Shilla. Cakka menautkan alisnya.

“Buat?”

“Semuanya.”

“anytime” jawab Cakka. Lalu beranjak berdiri.

“Udah saatnya kamu buka hati kamu untuk cowok lain Shill, jangan nge stuck di masa lalu. Masa lalu itu cuma hantu, c’mon nggak ada salahnya kan move on?” ujar Cakka sambil tersenyum.

“Akan aku coba” jawab Shilla. Cakka tersenyum dan meninggalkan Shilla sendiri disini, di Taman yang menjadi saksi biksu atas pengutaraan Cakka terhadap Shilla empat bulan yang lalu.

***

“ALVIN!” Si empunya menoleh ketika namanya di panggil.

“Kenapa?” jawab Alvin seadanya.

“Alah, elo. Sok cuek! Jaim amat. Biasanya juga di rumah gue elo petakilan nggak jelas” sindir Shilla sambil membenarkan letak kupluknya.

Alvin menghela napas. Hah, ternyata emang gabisa cuek kalo di depan nih cewek satu.

“Nyokap nyariin tuh. Dia bilang ‘Shilla, besok suruh Alvin dateng ke rumah dong. Mama kangen sama dia nih’” kata Shilla sambil menirukan mamanya pada saat berbicara seperti itu.

Alvin tertawa kecil.

“Tuhkan, gue bilang apa! Gue nggak main tiga hari aja di kangenin. Gimana gue nggak main seminggu disitu coba?” ujar Alvin PD.

PLAK

Satu pukulan mendarat di lengan Alvin.

“Aduh!” pekik Alvin.

“Elo cewek , tapi tenaganya kuli. Buset dah” ringis Alvin.

“Lagian elo!    Pd bures” cibir Shilla

“Nona Ashilla, this is real, not fake.” Bela Alvin

“Yayaya up to you lah. Ayo ke rumah gueee!!” Shilla menarik lengan Alvin.

“SHILLA! MOTOR GUE MAU DI KEMANAIIINNN?” Teriak Alvin. Refleks Shilla menutup telinganya.

“Hehe maaf Vin. Gue kan nggak tau kalo lo bawa motor” kata Shilla sambil meringis, menahan tawa.

Alvin mendengus lalu berjalan ke arah parkiran.

“Heh! Tungguiiinnnn” Shilla lalu mengejar Alvin.

Shilla seakan lupa dengan ‘galau’nya. Well, untuk hari ini.

***

Shilla duduk di balkonnya, memandang kearah langit lepas. Ah ya, ini salah satu kegiatannya pada malam hari semenjak….. kejadian yang –tidak- diinginkannya. Apa boleh buat? Shilla kemudian mengambil handphone nya yang sudah beberapa hari ini di terlantarkannya. Melihat layar handphonenya . Kemudian mengela napas. Biasanya, Cakka akan mengirimkan pesan singkat. Sekedar menanyakan apakah dia sudah makan atau belum , lagi ngapain , atau….. Menggombal. Shilla tertawa kecil mengingat beberapa pesan singkat yang dikirimkan cowok itu kepadanya.

From : Cakkandut

 

Kamu jangan tidur malem-malem ya . Jaga kesehatan, jangan lupa makan , istirahat yang cukup. Maaf tadi ngajak kamu jalan dari subuh sampai malem gini. Good night dear. Love you :*

 

Sedang rindu rupanya dia!

Perlahan Shilla menangis. Mengingat betapa perhatiannya Cakka kepada dirinya.

“Buat apa lo nangisin hal yang udah lewat?” ujar seseorang dibelakang Shilla. Reflek Shilla menoleh.

“Alvin” suaranya tercekat.

Alvin duduk di sebelah Shilla, menatap datar pekarangan rumah Shilla yang sedikit terhalang oleh cahaya yang minim.

“Nggak guna nangisin hal yang udah lewat. Lo harus bisa ngelupain kenangan lo dulu…” kata-kata Alvin terputus.

“Nggak! Gue nggak bisa!” kata Shilla tajam.

“Lo itu udah di putusin sepihak sama Cakka. Tanpa lo tau alasan kenapa dia mutusin elo. Right Ashilla ?” lanjut Alvin

Shilla terdiam. Duduk terpaku. Rahangnya mengeras. Ah iya! Dia lupa menanyakan kenapa Cakka memutuskannya.

“Lo bener Vin” lirih Shilla. Alvin tersenyum kecil. Lalu mengacak pelan puncak kepala Shilla.

“Let’s do that, Ashilla. Lo pasti bisa! Shilla yang gue kenal adalah Shilla yang pantang menyerah.” Shilla tersenyum.

“Gimana, dari pada lo suntuk di rumah. Mending kita jalan?” tawar Alvin. Shilla menimang-nimang tawaran Alvin. Lalu mengangguk.

“Gue nggak usah ganti yaaa?” kata Shilla dengan puppy eyesnya. Alvin melihat pakaian Shilla. Hanya menggunakan celana pendek warna putih dan baju lengan panjang berwarna ungu muda. Alvin mengangguk.

“Let’s GOOOO!!!” kata Shilla semangat sambil menarik tangan Alvin.

***

“Kita mau kemana sih Vin?” tanya Shilla

Alvin menengok kearah Shilla

“Udah lo diem aja. Nanti juga tau sendiri” jawab Alvin lalu kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalan

Shilla terdiam, kemudian menatap jalanan yang gelap . Kemudian Shilla menutup matanya. Mencoba membuang perasaan sesat yang sudah lama menghuni relung hatinya. Alvin menengok kearah Shilla, kemudian membelai rambut Shilla pelan.

“Shill” Alvin menepuk pelan kedua pipi Shilla

“Euhm…. WOW!” Pekik Shilla ketika kesadarannya benar-benar kembali.

“Gimana? Suka?” tanya Alvin. Shilla mengangguk mantap.

“Keren banget Viinn!!!” puji Shilla.

Alvin tengah membawa Shilla ke padang ilalang yang penuh dengan kunang-kunang berterbangan di langit, di temani hiasan sang dewi malam dengan para pengikut setianya.

“Ayo turun” ajak Alvin. Shilla mengangguk. Kemudian membuka pintu mobil Alvin.

“indah bangeeetttt” Shilla melontarkan kembali pujiannya terhadap padang ilalang yang terhampar luas di pandangannya.

“Tapi nggak seindah elo Shill” kata Alvin tulus. Muka Shilla memerah.

“Gombaalll” cibir Shilla sambil menepuk bahu Alvin.

“Gue serius tauuu”

Keduanya hening sejenak. Berusaha menetralkan perasaannya masing-masing. Seakan ada kupu-kupu menari dalam dada. Shilla melirik Alvin yang tengah menatap dewi malam.

‘Gue baru sadar..Ternyata Alvin ganteng juga ya..’ batin Shilla.

“Lo kenapa ngeliatin gue sebegitunya? Lo suka sama gue yaaa?” tegur Alvin saat mendapati Shilla tengah menatapnya dalam.

Shilla tersentak. Gelalapan, mencari alasan yang logis.

“Hah? Idiiiihhh rugi amat gue bisa suka sama orang macem lo” cibir hilla sambil membuang muka.

“Alaahh!! Ngaku deeehhh… Suka kan lo sama gueee?” Alvin semakin gencar menggoda Shilla yang berhasil membuatnya mati kutus.

“Enggaaakkkk”

***

Lagu believe mengalun dari handphone Shilla. Shilla yang sedari tadi memainkan piano di dalam kamarnya, menghentikan aktivitasnya lalu meraih handphone nya yang terdampar di pulau kapuknya.

One Message Received

 

Shilla mengrenyitkan dahinya, siapa yang mengirimkan pesan singkat? Alvin? Ah, ah that’s impossible. Tanpa membung waktu, Shilla membuka pesan singkat tersebut. Setelah mengetahui si empu yang mengirim pesan itu, jantung Shilla seakan berhenti berdetak. Hatinya berdenyut hebat.

From : Cakkandut

 

Bisa ketemu hari ini? Aku ada perlu sama kamu.

 

To : Cakkandut

 

Ok. Dimana?

 

From : Cakkandut

 

Cafe Melodi , jam 3 sore.

 

Shilla tidak berniat lagi membalas pesan itu, diliriknya jam di dindingnya jam setengah 3 sore. Shilla melotot. Kemudian bergegas mandi . Setelah mandi , Shilla segera mengganti bajunya dengan

Celana pendek jeans dan baju kelelawar tanpa lengan berwarna cream soft, segera dikenakannya sepatu kets berwarna coklat. Kemudian mengambil handphone nya lalu melesat pergi. Pada saat berada di gerbang, Shilla melihat sosok pemuda turun dari motor ninja merahnya.

“Alvin?” panggil Shilla . Pemuda itu menoleh.

“Shilla? Rapi amat? Gue mau main ini ke rumah lo. Mau pergi ya?” tanya Alvin. Shilla mengangguk.

“Gue face to face sama Cakka” lirih Shilla. Ck.

“Gue anterin.” Putus Alvin. Shilla terperangah. INI! Biasanya Alvin harus di bujuk dulu baru mau nganterin Shilla, tapi ini? Shilla diam.

“Ck. Elo. Lemot banget. Udah ayo gue anterin. Perasaan gue nggak enak nih” ujar Alvin. Shilla kemudian naik ke boncengan Alvin.

Setelah dipastikannya Shilla naik, Alvin langsung memacu kendaraannya dibatas maximal.Shilla langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Alvin.

“ALVIN! PELAN-PELAAANNN” teriak Shilla.

Perasaannya kalut! Tak rela jika gadis di boncengannya kembali pada orang masa lalunya, takut jika gadis ini melupakannya , takut jika gadis ini meninggalkannya. Alvin barulah sadar. Jika ia menyayangi Shilla lebih dari seorang teman. Egois memang, tapi Alvin ingin memiliki gadis ini seutuhnya!

Alvin mengurangi kecepatan motornya.

“Dimana elo janjian?” tanya Alvin dingin. Sifat Alvin yang dulu tiba-tiba KEMBALI!

Shilla meneguk ludahnya dengan susah payah, hatinya tertohok ketika Alvin berbicara dengan nada seperti itu.

“Cafe Melodi” jawab Shilla. Alvin hanya diam.

Tak lama kemudian, Shilla sampai di mana tempat ia berjanji dengan Cakka.

“Makasih Vin” Alvin hanya tersenyum masam kemudian meninggalkan Shilla tanpa sepatah katapun! Persis seperti Alvin Jonathan pada saat awal masuk SMA.

Shilla menunduk, hatinya berkecamuk. Kenapa ia tak rela jika Alvin bersikap dingin seperti ini? Kenapa ia tak rela Alvin mendiamkannya. Ah! Sedang di mabuk Cinta rupanya. Apa tadi? Di mabuk Cinta? Dengan siapa? Temannya sendiri kah ? . Shilla kemudian memasuki Cafe tersebut , lalu mengedarkan pandangannya . mencari seseorang yang dulu mengisi hari-harinya. Tatapannya tertuju pada seorang pemuda di pojok ruangan, tengah memandang kearah langit yang sedikit mendung. Perlahan Shilla berjalan kearah pemuda tersebut.

“Hai Kka” sapa Shilla pelan pada saat dirinya sudah berada di depan meja tersebut. Pemuda tadi – Cakka – menoleh.

“Hai Shill. Duduk” kata Cakka

Shilla kemudian duduk, kepalanya terus menunduk sedari tadi. Cakka kemudian menghela napas berat. Lalu mengeluarkan sebuah benda cukup tebal karena –mungkin- benda tersebut hard cover .

“Aku bakal tunangan dua hari lagi.” Kata Cakka pelan.

JDER. Sebuah dentuman keras di hati Shilla ketika telinganya mendengar ucapan Cakka tadi. Shilla tersenyum. Oh tidak! Senyum palsu yang ia pasang di paras cantiknya.

“Congrats ya..” kata Shilla tertahan. Hatinya begitu sakit!

Shilla cepat-cepat mengambil undangan dari tangan Cakka lalu membacanya sekilas.

Cakka Nuraga & Agni Tri Nubuwati

Minggu, 24 Mei 2012

11.00-15.00

Gedung Serbaguna Jakarta.

 

Shilla tersenyum masam.

“Sekali lagi, congrats” Setelah berkata begitu, Shilla langsung meninggalkan Cakka. Cakka terkesiap.

“SHILLA!” Teriak Cakka. Shilla masih terus berjalan, hingga berlari. Berusaha mati-matian menahan air matanya. Tidak! Dia tidak bisa menahan ini semua. Air matanya tumpah dengan diiringi Air mengguyur Jakarta. Tnpa pikir panjang, Shilla langsung menembus hujan dan melangkahkan kakinya ke taman dekat situ.

“SHILLA!” teriak Cakka lebih keras, dan berhasil membuat perhatian pengunjung terarah kepadanya.

***

“ARRGHHH!!! Gue kenapa sih” kata Alvin frustasi.

“Perasaan gue kenapa kacau kayak gini.” Alvin langsung mengambil handphone nya kemudian memencet sederet angka .

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan….”

“DAMN!” Alvin langsung menyambar kunci mobilnya.

Beberapa menit kemudian , Alvin sudah menjalankan mobilnya.

“Shilla. Lo baik-baik aja kan?” lirih Avin.

Pikirannya kacau. Kalut , takut .

Sementara itu……

Shilla menangis sejadi-jadinya di taman itu. Membiarkan badannya bak model itu di guyur oleh air yang terus menerus membasahi bumi pertiwi. Tidak sopan!

“Kenapa….” lirih Shilla.

_

“Sial!” umpat Alvin begitu memeriksa sepenjuru cafe. Tidak di temukannya Shilla di sana. Alvin dengan segera kembali kearah mobilnya kemudian putar balik. Satu alternatif… Semoga… FIGHTING!

Alvin memberhentikan mobilnya di taman dekat situ. Matanya menelusuri setiap penjuru taman. Tatapannya tertuju pada seorang gadis yang tengah duduk, membiarkan tubuhnya dibasahi oleh hujan, bahunya naik turun. MENANGIS! Tanpa buang waktu , Alvin langsung membuka pintu mobilnya kemudian menutupnya lagi lalu berlari kearah gadis tersebut.

“Ashilla” panggil Alvin. Shilla mendongakkan kepalanya.

“Alvin” lirih Shilla langsung menubrukkan badannya ke badan Alvin. Memeluk erat-erat Alvin dan membenamkan wajahnya di dada bidang cowok ini. Alvin sedikit kaget dengan perlakuan Shilla. Tapi, tanpa sadar Alvin merengkuh Shilla lalu membelai lembut rambut Shilla yang basah. Badannya menggigil. Alvin sedikit merutuki pakaian Shilla kali ini. Dasar.

“Kenapa Vin… Kenapa” kata Shilla parau

“Lo nangis sepuas lo. Kalo udah tenang lo cerita sama gue” Kemudian tangis Shilla pecah kembali. Semakin membenamkan wajahnya di dada Alvin. Hujan pun semakin deras mengguyur Jakarta. Seakan menggambarkan suasana hati Shilla. Setelah tenang, Shilla melepaskan pelukannya.

“Hey, kenapa?” tanya Alvin lembut.

“Cakka….” kata-kata Shilla terputus.

Ck. Nama itu lagi batin Alvin.

“Kenapa?”

“Dua hari lagi dia tunangan Vin” lirih Shilla . badannya melemas seketika.

“Semudah itu dia bilang dia mau tunangan tanpa mikirin perasaan kamu?” Entah kenapa, Alvin ingin mengubah gaya panggilannya terhadap Shilla . Yang tadinya “gue-lo” jadi “aku-kamu” . Shilla terdiam sesaat.

“Aku….. gatau” Shilla menggeleng pelan.

“Dan kamu masih mau dateng?” Shilla mengangguk. Alvin mengela napas.

“Aku temenin” ujarnya sambil tersenyum.

“Really?” Alvin mengangguk.

“Ayo kita pulang!”

Shilla tertawa lalu menggandeng Alvin. Hujan berhenti seketika. Digantikan oleh lagit cerah dengan bau tanah yang khas oleh minyak aksirih.

***

24 Mei 2012 , Gedung Serba Guna Jakarta, 12.30 p.m

Shilla menarik napasnya lalu menghempaskannya begitu saja. Dunia Tidak adil!! Shilla hari ini hanya menggunakan dress selutut berwarna biru dipadu dengan bang pinggang hitam, rambutnya di urai biasa, sedikit polesan di wajahnya. Menggunakan flatshoes hitam . Alvin sendiri hanya menggunakan kemeja biru dengan celana jeans hitam dipadu dengan dasi panjang berwarna hitam dengan sepatu kets warna putih. Sungguh serasi.

Shilla tidak tahan dengan pemandangan di depannya. Ketika Cakka memasangkan cincin di jemari Agni begitupula sebaliknya. Alvin menggenggam tangan Shilla seakan ingin memberikan kekuatan pada gadisnya ini.

“Jangan nangis Shill. Itu sama aja kamu nyakitin diri sendiri. Kamu harus tunjukkin kalo kamu itu bisa hidup tanpa dia. Udah cukup dia nyakitin kamu. Kamu terlalu baik Ashilla.” Bisik Alvin di telinga Shilla. Membuat Shilla tersenyum. Seakan-akan mendapatkan kekuatan baru.

“Makasih Vin. Udah mau ngerti aku, selalu ada buat aku. Thank’s for all” kata Shilla sambil tersenyum.

****

“APA? KOREA?!” Teriak Alvin. Papa Alvin mengangguk.

“Nggak pa! Alvin nggak mau ke Korea!” tolak Alvin

“Kamu harus mau nak. Ini suruhan kakek kamu yang ada disana.” Bujuk papa Alvin.

“Nggak pa! Cita-cita Alvin bukan disitu. Alvin mau jadi photographer.” Kata Alvin sambil menundukkan kepalanya.

“Ini amanat dari kakek kamu Vin. Kamu tau kan Alvin, kakek kamu kayak gimana. Hanya empat tahun Alvin”

“Papa dengan mudahnya bilang empat tahun? Pa, Papa nggak mikirin gimana perasaan Alvin. Ninggalin rumah, ninggalin Indonesia, dan…….” kata-kata Alvin terputus.

Dia lupa akan sosok yang selalu membayang-bayangi nya. Sosok yang menjadi penyemangat hidupnya.

“Dan siapa?” tanya papa Alvin.

“Shilla” lirih Alvin.

“Semua keputusan ada di tanganmu Alvin.” Ujar papa Alvin.

Alvin terdiam. Memikirkan bagaimana dia di Jepang. Tanpa Shilla disisinya.

“Iya pa. Alvin berangkat ke Jepang.” Putus Alvin.

“Kamu serius?” Alvin mengangguk.

“Tiga hari lagi kamu berangkat.”

“Oke”

***

“Shil…” panggil Alvin.

“Iya?” jawab Shilla. Alvin menarik tangan Shilla kemudian menggenggamnya. Shilla hanya menatap Alvin .

“Sebelumnya, aku mau bilang… aku sayang kamu” kata Alvin . shilla terkesiap. Dadanya berdetak dua kali lipat.

“Aku juga sayang kamu Vin…”

Alvin tersenyum lalu mengacak pelan poni Shilla.

“Tapi… Aku gabisa sekarang.” Lirih Alvin.

“Kenapa?”

“Besok. Aku berangkat ke Korea. Empat tahun lamanya aku di Korea. Aku nggak mau, begitu aku pacaran , aku ninggalin kamu sendiri disini” ujar Alvin.

Dada Shilla sesak. Napasnya seolah tercekat.

“Empat tahun Vin?” Alvin mengangguk.

“Asal kamu tahu Shill. Rasanya berat buat ninggal kamu. Sakit Shill, sakit.”

“Aku tahu itu Vin. Aku tau…” sanggah Shilla . Shilla mulai terisak.

Alvin langsung merengkuh Shilla. Membiarkan gadis yang ia cintai menangis.

“Kamu selalu ada di hati aku Shill. Tanpa ada yang bisa ngegantiin”

“Kalo kamu mau itu, aku nggak bisa ngelarang. Aku bukan siapa-siapa kamu. Aku gaboleh egois.” Kata Shilla pelan.

“Bukan siapa-siapa. Sekarang memang bukan Shill. Tapi Suatu saat kamu jadi siapa-siapa aku” jawab Alvin.

“Terimakasih sudah datang ke hidupku.. Terimakasih sudah memberi warna di hidupku. Terimakasih…” kata Shilla dengan suara parau.

Alvin melepaskan pelukannya lalu menarik tengkuk Shilla kemudian mengecup kening Shilla. Shilla memejamkan matanya, menikmati sentuhan hangan di keningnya. Setelah melepas ciumannya di kening Shilla, Alvin menempelkan keningnya ke kening Shilla.

“Cuma kamu Shill yang bisa menyandang sebagai Mrs. Sindunata. No one can replace you from my heart.” Bisik Alvin. Shilla tersenyum.

****

Pesawat Alvin sudah lepas landas dari beberapa menit yang lalu. Tetapi gadis ini masih duduk di ruang tunggu.

“Empat tahun lagi aku bakal ketemu kamu. Pasti kamu tambah ganteng.” Lirih Shilla mencoba menghibur dirinya sendiri.

“Aku bakal tunggu kamu sampai kamu pulang ke Indonesia Vin” lanjutnya.

“Miss you, Alvin Jonathan”

Shilla teringat akan pesan Alvin yang ditulisnya dalam kertas. Segera dibukanya lipatan surat tersebut.

To : Ashilla

 

Hai, Shill. Maaf ya aku nggak bisa nepatin janji aku buat jagain kamu selamanya. Aku disuruh papa berangkat ke Korea. Pasti aku bakal kangen celotehan kamu tentang Justin Bieber… Maaf udah bikin hubungan kita ngegantung gini. Jujur, aku berat buat ninggalin kamu sendiri. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu, sedangkan aku nggak ada di sisimu. Jangan lupa makan ya cintaa :”) . Jaga badan kamu, jangan banyak-banyak makan daging. Olahraga yang teratur, makan yang sehat. Jaga diri kamu baik-baik ya cantik J . aku bakal kangen banget sama kamu. Sampai berjumpa empat tahun lagi.

 

With Love

 

Alvin Jo

 

Shilla menangis. Dia kangen Alvin, kangen Alvin. Alvin!

***

EMPAT TAHUN KEMUDIAN

Shilla sekarang sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas di Jakarta. Jurusan kedokteran. Sampai saat ini, Shilla setia menunggu Alvin dari Korea. Empat tahun ini, Shilla benar-benar lost contact dengan Alvin. Shilla merasa bahwa Alvin melupakannya.

“Alvin… kamu dimana? Aku kangen” lirih Shilla sambil berusaha menahan laju airmatanya.

“Im here. Ashilla” jawab seseorang. Shilla mendongak.

“ALVIIINNN” girang Shilla reflek memeluk Alvin. Alvin tersenyum kecil lalu membelai lembut rambut Shilla.

“Jahat jahat jahaatt!!!” umpat Shilla

“Maaf udah buat nunggu kamu selama empat tahun ini. Maaf udah buat kamu nunggu nggak jelas.” Bisik Alvin.

Shilla menumpahkan tangisnya di pelukan Alvin. Ah tidak tidak. Bukan tangis kesedihan , melainkan tangis kebahagiaan.

“Mungki sekarang saatnya tepat” gumam Alvin lalu menguraikan pelukannya.

“Aku bukan Cakka yang bisa ngerangkai kata-kata indah, aku hanya Alvin. aku bukan tipe cowok kayak Cakka… Ashilla would you be my girlfriend?”

Shilla terelangah. Inilah,… INILAH!!! Saat yang paling di tunggunya.

“Yes…. i would” jawab Shilla lalu tersenyum.

Alvin lalu menarik Shilla kedalam pelukannya lagi.

“I love you..” bisiknya

“I love you too..”

-          END –

 

Well , menunggu memang membosankan. Apalagi empat tahun. Tapi, apasalahnya jika kita menunggu? cobalah bersabar. Karena, kita akan mendapatkan sesuatu dari kita menunggu. keikhlasan dalam menunggu akan membuat empat tahun berjalan begitu singkat. Cinta yang lama hilang datang dan kembali. so, tidak ada salahnya kan kita menunggu? 

Ashilla !

Haaiiiii udah lama gue nggak nge post di blog~ Untung postingan gue yang ke… *ngitung* Oke gue lupa. Gue ngepost tentang idola gue! Iya idola gue ? Elo anda ente you kowe (?) tau siapa ? ASHILLA ! Ashilla Blink ~ Personil GB Blink yang jebolan Idoa Cilik peridoe 1 tahun 2008 kalo gue nggak salah inget. Gue mau ngasih biodata + fact + fotonya~ Yuuuuu cekidottttt~

 

Nama : Ashilla Zahrantiara

Panggilan : Shilla , Mbash

TTL : Jakarta, 25 Februari 1997

Ayah : Zaenal Muttaqien

Ibu : Wiwied Sunarno

Adek : Shanindya Naurashalika , Keynaya Sharlakhayyira

Sekolah : BiNus Serpong

Twitter : @AshillaBlink @ashillazhrtiara 

Instagram : ashillazahrantiara

Warna : Fuschia

Makanan : sushi

Tinggi : 159 cm

 

Fact :

 

1. Shilla punya patung Shaun The Sheep modelnya kayak ninja

2. sebelum sibuk syuting shilla sering jawab pertanyaan shivers di f.me

3. waktu tinychat kedua shilla udh ngajak kekey buat bicara sama shivers

4. hilla pernah ngadain tinychat sm shivers. waktu tinychat pertama,shilla masih ngga ngerti dan hasilnya lumayan kacau

5. Waktu kecil, shilla suka pokemon

6. gitar, laptop dan iPhone-nya nya shilla warna putih , BB onyx hitam 

7. Shilla udah bisa bawa mobil

8. Shilla gabisa naik sepeda , gabisa naik motor.

9. Shilla angkatan ke 3 di BiNus 

10. Shilla masuk kelas 9 general

11. Hape Shanin sama Shilla itu kembar. Klao Shilla ganti BB Shanin ikut.

12. Shilla SDnya di Al-Azhar , dan SMAnya udah keterima di AL-Izhar Pondok Labu. Satu sekolah sama Ify

13. Di BiNus waktu kelas 1 , Shilla punya genk namanya 4Muskeeters. Anggotanya : Priscilla , Gaby , Shilla dan Grace.

14. Shilla satu ganknya paling deket sama grace

15. Shilla sebelum punya iPhone dia on twitter pake iPodnya. 

17. iPhone shilla iPhone 4s warna putih.

18. Waktu dia ulangtahun jumatnya , minggunya BLiNK ngisi acara di Inbox. Shilla di kerjain sama hostnya.

19. Shilla pertama kali pacaran itu kelas 7

20. Angka favoritenya Shilla itu 9

21. Bulan favoritenya September

22. Shilla semasa pacaran , sering contact2an sama cowoknya lewat BBM , SMS , Skype.

23. Waktu Pricilla di Belanda, mereka skype-an

24. Di MLP season 1 , Shilla maen jadi Sahara.

25. Mbash itu panggilan kekey buat Shilla yang artinya ‘Mbak Shilla’ tapi semua shiVers sekarang manggil Shilla mbash

26. Shilla jarang nulis status twitter pake Twitter For BlackBerry. Biasanya pake Twitter For iPhone kalo nggak via web.

27. Shilla pernah ganti MacBook. Yang tadinya orange jadi putih.

28. Mama Papa Shilla itu kerja sebagai dokter .

29. SLRnya Shilla itu 550D . Tapi sebenernya dia pengen yang 600D

30. Plat polisi mobil Shilla itu B 1795 IS

31. Mama Shilla bela-balin pulang dari Singapore cuma buat liat Shilla tampil di SMA ft . Last Child

32. Plat mobilnya papanya Shilla YK kalo mamanya WID

33. Mobilnya Shilla itu jazz n plat nmrnya IS

34. Mobil papanya Shilla itu CRV kalo mamanya NISSAN

35. Shilla punya rautan bentuk monyet warna biru terang

36. Mbak yg kadang ikut Shilla ke acara” itu mbak Encus (yg biasa jagain Kekey)

37. Shilla sama Shanin itu cuma beda setaun

38. Shilla punya casing iPhone kembaran sama kak Frieda . Presidennya Shivers. Bentuknya mata.

39. Casing iPhone Shilla yang Hello Kitty itu dia beli di Singapore.

40. Shilla itu kidal. Tapi dia masih bisa makan pake tangan kanan

41. Jamannya Idola Cilik, Shilla kegabung di Icil Diva.

42. Shilla pernah masuk TTWW ke 3 ngalahin Justin Bieber. Dan langsung masuk di wikipedia.

43. Diantara MB Blink yang lain, followers @AshillaBlink lebih banyak.

44. Di account @ashillazhrtiara Shilla lebih sering galau.

45. Shilla pernah ngadain gath bareng Shivers. Tempatnya di Cafe strawberry daerah radio dalem.

46. Shilla itu SMASHBLAST loh~

47. Dan paling suka sama Bisma.

48. Shilla gapunya iPad. Papanya yang punya.

49. Account youtube Shilla itu “zahrantiarashilla”

50. Fcebook Shilla yang asli itu yang ada ‘7e’ nya.

51. BLiNK pernah diundang ke Kendari. Acara ulangtahun anak BS Kendari.

52. Shilla sering banget ngedit foto di instagram.

53. Shilla pernah 3 kali ganti BB . Pertama BB yang pertama keluar bareng Bold 9000, gemini , dan Onyx 2 sekarang.

54. Waktu lebaran, Shilla pernah dapet angpao 1 juta.

55. Shilla manggil gabriel ‘ demek ‘ Gabriel manggil Shilla ‘ Shillek ‘ .__.

56. Shilla waktu SD pernah ke hongkong.

57. Waktu kelas 7 Shilla liburan ke paris.

58. Waktu account yang @ladyshilla , di protect. Shilla pernah nyebar pin BBnya.

59. Shilla sabar banget ngadepin hatersnya.

60. Shilla pengen ada tahun 3000

61. Laptop Shilla itu MacBook Pro warna putih.

62. Kata Shilla, Alvin itu cool.

63. Kata Shilla , film Woman In Black itu endingnya ngegantung.\

64. Di twilight , Shilla milih team jacob.

67. Rumah Shilla jauh dari Cibubur Junction.

68. Shilla punya band namanya Avengers. Pernah manggung di Bymamic Fast tahun 2010.

69. Shilla punya parfume Someday nya JB.

70. Mall favoritenya Shilla itu PIM

71. Shilla internetnya pake wifi

72. Waktu UASBN SD NEM Shilla itu : Math IPA : 95 Indo : 94

73. Kata Shilla masuk BiNus itu susah

75. Shilla pake shampoo Makarizo

76. Shilal manggil papanya itu sebutan ayah

77. Shilla pake photoshop CS3

78. Shilla takut sama ular

79. Shilla bisa maen piano , gitar , bass.

80. Golongan darah Shilla O

81. Tahun paling special bagi Shilla itu 2009

82. Cowok Shilla dulu kelahiran tahun 1998

83. Cuma beda setaun doang.

84. Kata Shilla kalo ke PIM suka inget kenangan sama cowoknya.

85. Shilla suka justin semenjak videonya yang ‘ with you ‘

86. Shilla nonton konsernya Justin , Katy perry.

87. Shilla nggak liat Java Jazz tahun ini.

88. Shilla pernah pulang shooting subuh.

89. Shilla suka hari rabu sama jum’at

90. Shilla pengen justbeats sama purpleglasses nya Justin.

91. Shilla lebih milih on MSN dari pada YM

92. Kalo di sinetron Shilla sering ngeledek kak Adzana . Tapi kalo diluar skrip , Shilla pernah nyapa kak Adzana

93. Waktu main di MLP . Shilla barengan sama patton , bastian , gabriel yang penah ikut di Idola Cilik

94. Shilla pertama manggung bareng BLiNK di fx mall . 

95. BLiNK itu berdirinya tanggal 23 Juli.

96. Kelas yang paling dikangenin Shilla itu kelas 7E 

97. Shilla kalo jalan suka minta uang ke mamanya.

98. Kayaknya iPhone Shilla itu dia beli pake uang kerjannya sendiri,.

99. Sekolah Shilla kalo hari sabtu itu libur.

100. Shilla waktu putus sama cowoknya galau banget di twitter. 

 

Gue kasih 100 fact Shilla. Pictnya dibawah ya~

 

Image

 

sama Marlo , Fauzan

 

Image

 

Kartu test Shilla waktu test masuk Labschool

 

Image

Di bandara Haluoleo Kendari

 

Image

 

Waktu abis di kerjain di Inbox.

 

Image

 

Surprise party shilla . Tartnya di kasih sama fauzan , tevin

 

Image

 

foto buat buku tahunan.

 

Image

 

Sama bandnya.

 

Image

 

Blink waktu di bukan 4 mata.

 

Image

 

Sama Bisma

 

Image

 

Micnya Shilla. Nggak sengaja dpet nomer 9 :”””)

 

Image

 

Belajar buat UN 

 

Image

 

Sama Marlo ( Anaknya KICK ANDY)

 

Image

 

Waktu skype sama….

 

Image

 

Jenguk Sivia di rumah sakit *kalogasalah*

 

Image

 

Nonton MLP di Dufan

 

Image

 

di Majalah High End Teen

 

Image

 

sama avengers + @rangsoe

 

Image

 

Abis tampil di SMA bareng LC.

 

Image

 

Waktu audisi MLP’

 

Mungkin segitu dulu yang bisa gue share. Yang lainnya kapan kapan ya!!! byeeeee :*